BANTENRAYA.COM – Simak teks khutbah Jumat hari ini dengan tema Cara Nabi Muhammad Saw Menghadapi Fitnah.
Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya penyebaran kabar di era digital saat ini, kita sering melihat fitnah menyebar lebih cepat daripada kebenaran.
Banyak orang terjatuh dalam kegelisahan hanya karena berita yang belum tentu benar.
BACA JUGA: Kode Voucher Shopee 12.12, Belanja Hemat Diskon Hingga 99 Persen Buruan Klaim
Namun jauh sebelum teknologi hadir, Rasulullah Muhammad SAW sudah memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana menghadapi fitnah dengan kebijaksanaan, ketenangan, dan keteguhan hati.
Melalui khutbah Jumat ini, mari kita renungkan kembali cara Nabi Muhammad SAW menghadapi fitnah, agar kita bisa meneladani adab beliau dalam menjaga diri, lisan, serta hati di tengah ujian kehidupan modern.
Berikut ini Teks Khutbah Jumat Cara Nabi Muhammad Saw Menghadapi Fitnah
الَحمْدُ هَللَِّ الهذَيْ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَهز جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْحَْْزَابَ وَحْدَهُ. أَحْدَُْهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُ.وْبُ إَلَيْهَ وَأَسْتَ.غْفَرُهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لََ إَٰلهَ إَهلَ ا هللُِّ وَحْدَهُ لََ شَرَيْكَ لَهُ، تَ.عَظهمَ شَأْنُهُ وَتَ.قَ هدسَتْ أَسْاَْؤُهُ، وَأَشْهَدُ أَنه سَيَ¹دَنََ وَحَبَيْ.بَ.نَا وَشَفَيْ.عَنَا
وَمَوْلَنَََ مَُمُهدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادَقُ الْوَعْدَ الْمََْيُْ .اَللههُمه صَلَ¹ وَسَلَ¹مْ وَبَرََكْ عَلَى سَيَ¹دَنََ وَمَوْلَنَََ مُمَُهدٍ، وَعَلَى آلَهَ
ال هطاهَرَيْنَ، وَأَصْحَابَهَ الْغُ¹رَ الْمَيَامَيَْ، وَمَنْ تَبَعَهُمْ بََحِْسَانٍ إَلََ يَ.وْمَ ال ¹دَيْنَ، وَسَلَ¹مْ تَسْلَيْمًا كَثَيْاًْ. اَمها بَ.عْدُ، فَ.يَا أَيُّ.هَا
الَْحاضَ رُوْنَ، اَته.قُوا ا ٰ¹للَِّ حَقه تُ.قَاتَهَ وَلََ تَوَُْتُنه اَهلَ وَأَنْ.تُمْ مُسْلَمُوْنَ، وَرَاقَبُ.وْهُ فَِ ال َ¹س¹رَ وَالْعَلَنَيهةَ، فَ.قَدْ فَازَ الْمُته.قُوْنَ. قَالَ اُلله
تَ.عَالََ فَِ كَتَابَهَ الْكَرَيَْ: وَلَقَدْ كُ ¹ذَبَتْ رُسُل َ¹من قَ.بْلَكَ فَصَبَوَُا عَلَٰى مَا كُ ¹ذَبُوا وَأُوذُوا حَ هٰتَّ أَتَهَُمْ نَصْرُنََ ۚ وَلََ مُبَ ¹دَلَ
لَكَلَمَاتَ ا هللَِّ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مَن نه.بَإَ الْمُرْسَلَيَ.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Khatib berwasiat kepada diri khatib, dan juga kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa adalah ketika kita merasa diawasi oleh Allah meski tidak ada manusia yang melihat. Takwa adalah ketika kita lebih takut meninggalkan salat daripada kehilangan dunia. Takwa adalah ketika kita menahan lidah dari kebohongan, menahan hati dari iri dan dengki, serta menahan tangan dari menyakiti orang lain. Allah Swt berfirman:
وَمَن يَ.تهقَ ا هللَِّ يَعََْل لههُ مَرََْجًا وَيَ.رْزُقْهُ مَنْ حَيْثُ لََ يَتََْسَبُ .
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (Q.S. At-Ṭalāq [65]: 2-3).
Adapun tema khotbah pada kesempatan ini yaitu tentang: Cara Nabi Muhammad SAW Menghadapi Fitnah.
Saudara-saudaraku,
Fitnah adalah ujian yang pasti menimpa setiap manusia, terlebih para nabi dan orang- orang beriman. Fitnah bisa berupa kebohongan, tuduhan, atau berita yang menyesatkan. Rasulullah saw adalah teladan terbaik dalam menghadapi fitnah, baik fitnah yang diarahkan kepada pribadi beliau, keluarganya, maupun umatnya. Allah Swt berfirman:
َ¹من قَ.بْلَكَ فَصَبَوَُا عَلَٰى مَا كُ ¹ذَبُوا وَأُوذُوا حَ هٰتَّ أَتَهَُمْ نَصْرُنََ ۚ وَلََ مُبَ ¹دَلَ لَكَلَمَاتَ ا هللَِّ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ
وَلَقَدْ كُ ¹ذَبَتْ رُسُل
مَن نه.بَإَ الْمُرْسَلَيَ﴾ )النْعام: (٣٤
“Sungguh rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalimāt Allah. Sungguh, telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu.” (Q.S. Al-An’am [6]: 34).
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah,
Sejarah mencatat, Rasulullah saw berkali-kali difitnah oleh musuh-musuhnya. Namun beliau menghadapi fitnah itu dengan cara yang sangat mulia. Ada beberapa teladan yang bisa kita ambil:
Pertama, menghadapi fitnah dengan kesabaran. Ketika Rasulullah saw, dituduh gila, penyair, atau tukang sihir, beliau tidak membalas dengan makian. Beliau bersabar, menyerahkan semua kepada Allah, dan terus menyampaikan wahyu. Allah berfirman:
فَاصْبََْ عَلَٰى مَا يَ.قُولُونَ وَسَبَ¹حْ بَمَِْدَ رَبَ¹كَ قَ.بْلَ طُلُوعَ الشهمْسَ وَقَ.بْلَ الْغُرُوْبَ.
“Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu sebelum terbit dan terbenamnya matahari.” (Q.S. Qaff [50]: 39).
Kedua, menghadapi fitnah dengan diam dan tawakal. Ketika Aisyah r.a. difitnah dalam peristiwa haditsul ifk (berita bohong), Rasulullah saw tidak terburu-buru menuduh atau membela diri dengan amarah. Beliau menunggu wahyu Allah, tetap berdoa, dan berserah diri. Hingga akhirnya Allah sendiri yang menurunkan ayat membebaskan Aisyah r.a. dari tuduhan (Q.S. An-Nur [24]: 11–20). Ini mengajarkan kita untuk tidak gegabah ketika menghadapi fitnah, tetapi mencari kebenaran dengan tenang dan tawakal.
Ketiga, menghadapi fitnah dengan akhlak mulia. Ketika beliau difitnah sebagai penyebar perpecahan di Makkah, Rasulullah saw justru menunjukkan akhlak terbaik. Beliau jujur, amanah, penyayang, dan menebar kasih sayang. Fitnah akhirnya gugur karena akhlak beliau lebih kuat dari tuduhan. Rasulullah saw bersabda:
إَهناََّ بُعَثْتُ لَتَََُْ¹مَ مَكَارَمَ الْخَْْلَقََ.
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Ahmad).
Keempat, menghadapi fitnah dengan doa dan zikir. Setiap kali menghadapi fitnah, Rasulullah saw memperbanyak doa dan zikir. Beliau memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan lisan manusia. Beliau berdoa:
اللههُمه اكْفَنَيهَمْ بَاَِ شَئْتَ .
“Ya Allah, cukupkanlah aku dari (gangguan) mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” (H.R. Bukhari).
Kelima, menghadapi fitnah dengan tidak membalas fitnah. Rasulullah saw tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Ketika beliau dihina, difitnah, atau disakiti, beliau justru mendoakan kebaikan. Puncak teladan ini terlihat saat beliau berdakwah ke Ṭāif. Kaum Ṭāif menolak dakwah beliau, bahkan mengusir dengan melempari batu hingga darah mengalir di tubuh mulia beliau. Malaikat Jibril datang menawarkan untuk membinasakan penduduk Ṭāif dengan gunung yang menghimpit mereka. Namun Rasulullah saw menjawab dengan doa yang penuh kasih:
اللههُمه اهْدَ قَ.وْمَي فَإَ هنمَُّْ لََ يَ.عْلَمُونَ.
“Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” (H.R. Ahmad).
Beliau tidak memilih membalas, melainkan berharap suatu hari nanti anak-anak dari Ṭāif akan lahir sebagai generasi beriman yang menolong agama Allah. Dan benar, doa beliau terkabul. Ṭāif kemudian melahirkan generasi sahabat dan ulama besar dalam Islam.
Hadirin rahimakumullah,
Dari teladan Rasulullah saw, kita belajar bahwa kita mestinya menghadapi fitnah dengan sabar, Jangan gegabah, kita harus tetap tawakal, Tunjukkan akhlak mulia, Perbanyak doa dan zikir kepada Allah Swt. Inilah cara Rasulullah saw mengajarkan umatnya menghadapi fitnah: dengan kesabaran, kebeningan hati, dan keyakinan kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:
إَ هناََّ سَتَكُونُ فََ تَ، أَلََ ثُهُ تَكُونُ فََ تَ، الْقَاعَدُ فَيهَا خَيْْ مَنَ الْقَائَمَ، وَالْقَائَمُ فَيهَا خَيْْ مَنَ السهاعَي، مَنْ تَشَهرفَ لَاََ تَسْتَشْرَفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَ.لْيَ.عُذْ بَهَ.
“Akan datang fitnah-fitnah. Orang yang duduk di dalamnya lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Siapa yang mendekati fitnah, fitnah itu akan merenggutnya. Maka siapa yang menemukan tempat perlindungan, hendaklah ia berlindung di sana.” (H.R. Bukhari & Muslim).
Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn menjelaskan:
إَذَا ظَهَرَتَ الْفَتََُ فَ.عَلَى الْعَاقَلَ أَنْ يُسَُْكَ لَسَانَهُ، وَيُكْثَرَ ذَكْرَ رَبَ¹هَ، وَيَ.لْزَمَ بَ.يْ.تَهُ.
“Apabila fitnah muncul, maka orang yang berakal hendaknya menjaga lisannya, memperbanyak zikir kepada Allah, dan menetap di rumahnya (tidak ikut menyebarkan fitnah).”
Hadirin jemaah Jum’at rahimakumullah,
Fitnah akan selalu ada, tetapi kita punya teladan terbaik yakni Nabi Muhammad saw yang harus kita teladani dalam menghadapi fitnah. Mari kita jadikan sabar, zikir, doa, dan menjaga lisan sebagai benteng dari fitnah. Semoga Allah melindungi kita, keluarga kita, para pemimpin kita, dan bangsa kita dari segala fitnah dunia dan akhirat.
بَرََكَ اُلله لَِ وَلَكُمْ فَِ الْقُرْآنَ الْعَظَيْمَ، وَنَ.فَعَنَِْ وَإَهيكَُّمْ بَاَِ فَيْهَ مَنَ الْيَْتََّ وَال ¹ذكَْرَ الَْحكَيْمَ، وَتَ.قَبهلَ اُلله مََ¹نِْ وَمَنْكُمْ تَلَوََتَهُ، إَنههُ هُوَ السهمَيْعُ الْعَلَيْمُ. فَاسْتَ.غْفَرُوهُ إَنههُ هُوَ الْغَفُوْرُ الهرحَيْمُ.
Khotbah Kedua
الَْحمْدُ هَللَِّ رَ َ¹ب الْعَالَمَيَْ، حَدًْْا ي.وَُافَِ نَعَمَهُ وَيُكَافَئُ مَزَيْدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لََ إَٰلهَ إَهلَ اُلله وَحْدَهُ لََ شَرَيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنه
سَيَ¹دَنََ مَُمُهدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللههُمه صَلَ¹ وَسَلَ¹مْ عَلَى سَيَ¹دَنََ مَُمُهدٍ وَعَلَى آلَهَ وَأَصْحَابَهَ أَجْعََْيَْ. أُوْصَ يْكُمْ عَبَادَ اَلله
وَنَ.فْسَيَ الْمُقَ َ¹صرَةَ بَتَ.قْوَى اَلله، فَاته.قُوا اَلله وَأَطَيْ.عُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنه أَصْدَقَ الَْحدَيْثَ كَتَابُ اَلله، وَخَيَْْ الْدََْيَ هَدْيُ مُمَُهدٍ
صَلهى اُلله عَلَيْهَ وَسَلهمَ .قَالَ اُلله تَ.عَالََ فَِ كَتَابَهَ الْعَزَيْزَ: وَاته.قُوْا فَتْ.نَةً هلَ تُصَ يْهَبَ الهذَيْنَ ظَلَمُوْا مَنْكُمْ خَاۤصهةً وَۚاعْلَمُوْْٓا اَنه ا ٰ¹للَِّ
شَدَيْدُ الْعَقَابَ. إَنه اَلله وَمَلَئََكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الهنَ َ¹ب، ٰيٰيَُّها الهذَيْنَ آمَنُ.وْا صَلُّوْا عَلَيْهَ وَسَلَ¹مُوْا تَسْلَيْمًا. اَللههُمه اغْفَرْ
لَلْمُسْلَمَيَْ وَالْمُسْلَمَاتَ، وَالْمُؤْمَنَيَْ وَالْمُؤْمَنَاتَ، الْحَْْيَاءَ مَنْ.هُمْ وَالْمَْْوَاتَ. اَللههُمه اجْعَلْنَا مَهِنْ يَسْلَمُ مَنَ الْفَتَََ مَا ظَهَرَ
مَنْ.هَا وَمَا بَطَنَ. اَللههُمه احْفَظْ بَلَدََنََ وَأُمهتَ.نَا مَنْ كُلَ¹ سُوْءٍ وَفَتْ.نَةٍ. اَللههُمه اجْعَلْنَا صَابَرَيْنَ عَلَى بَلَئََكَ ، رَاضَيَْ بَقَضَائَكَ ،
مُتَمَ َ¹سكَيَْ بَكَتَابَكَ وَسُنهةَ نَبَيَ¹كَ . رَبه.نَا آتَنَا فَِ الدُّنْ.يَا حَسَنَةً، وَفَِ الْخَْرَةَ حَسَنَةً، وَقَنَا عَذَابَ النهارَ. وَالَْحمْدُ هَللَِّ رَ َ¹ب
الْعَالَمَيَْ . إَنه اَلله يَٰمُْرُ بَلَْعَدْلَ وَالَْحْْسَانَ وَإَيتَاءَ ذَي الْقُرْبََ، وَيَ.نْ.هَى عَنَ الْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَ.غْيَ، يَعَظُكُمْ لَعَلهكُمْ
تَذَكهرُوْنَ. فَاذكُْرُوا اَلله الْعَظَيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نَعَمَهَ يَزَدكُْمْ، وَلَذكَْرُ اَلله أَكْبََُ، وَا هللُِّ يَ.عْلَمُ مَا تَصْنَ.عُوْنَ.



















