DPK Banten Bedah Buku Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein

- Rabu, 15 Juni 2022 | 11:30 WIB
Muhammad Nanda Fauzan, Penulis Buku Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein (kanan) saat menghadiri bedah buku yang digelar DPK Banten. (Satibi/Bantenraya.com)
Muhammad Nanda Fauzan, Penulis Buku Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein (kanan) saat menghadiri bedah buku yang digelar DPK Banten. (Satibi/Bantenraya.com)

BANTENRAYA.COM - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan atau DPK Banten melaksanakan bedah buku dengan judul Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein karya Muhammad Nanda Fauzan.

Dalam diskusi yang digelar DPK Banten tersebut, Nanda yang masih menjadi mahasiswa ini menyampaikan buku karyanya merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen).

Kumpulan cerpen di bukunya yang dibeda DPk Banten itu juga  sudah dimuat disejumlah media massa baik cetak maupun online.

Baca Juga: Penyebab BTS Hiatus hingga Para Member Menangis Haru, Benarkah Bakal Berpisah?

Ia menjelaskan, ada 18 cerpen yang ada dua diantaranya adalah cerpen terbaru yang belum pernah dipublikasi di media massa.

Hal yang melatarbelakangi judul bukunya Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein, karena dari 18 cerpen tersebut yang mewakili tokoh yang cocok adalah Ilyas Hussein.

"Saat pertama kali mengumpulkan naskah untuk diterbitkan, saya berkeinginan untuk mencari satu tokoh yang repersentatif yang sesuai dengan kumpulan cerpen yang ada di dalam buku ini," kata Nanda.

Baca Juga: Timnas Indonasia Lolos ke Piala Asia, Sandy Walsh, Jordi Amat dan Shayne Pattynama Kompak Ucapkan Selamat

Menurutnya, Ilyas Hussein adalah tokoh fiktif dan kebetulan nama tersebut merupakan nama lain dari Tan Malaka.

Buku ini merupakan hasil riset dari sejumlah bacaan, namun juga hasil riset dari nonton film, diskusi dengan kawan-kawan dan riset lainnya.

"Latar ceritanya kebanyakan di Provinsi Banten, dan beberapa isinya masih mengangkat sejarah Banten. Misalnya Tan Malaka pernah ke Bayah," ucapnya.

Baca Juga: FAKTA FAKTA Pakai Sendal Jepit Saat Mengendarai Motor Bisa Kena Semprit Polisi

Terkait berapa lama menulis satu cerpen, warg Bayah, Kabupaten Lebak ini mengaku bahwa dalam menulis satu cerpen membutuhkan waktu yang relatif lama, karena membutuhkan riset yang mendalam.

"Dalam menulis satu cerpen bisa menghabiskan waktu satu hingga dua bulan. Dalam menulis cerpen tidak menggunakan outline, karena dalam menulis pasti akan berubah," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Nanda mengakui bahwa tokoh yang berada di dalam cerpen tersebut mengikuti kebutuhan dalam cerita. Ada beberapa perjalanan Arswendo Atmowiloto menarik untuk menjadi bahan tulisan.

Halaman:

Editor: Jermainne Tirta Dewa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X