BANTENRAYA.COM – Kerukunan antara agama yang terjadi di wilayah Banten Selatan, khususnya antara suku Baduy dengan umat muslim di kawasan Baduy luar sudah terjalin sejak lama.
Hubungan Suku Baduy tersebut disampaikan Penulis Niduparas Erlang, saat menjadi pembicara dalam kegiatan bedah buku yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan atau DPK Banten.
Dalam paparannya, Nidu sapaan akrabnya menyampaikan, buku Badujs en Moslims karya Nicolaas Johannes Cornelis Geise ini menelaah rincian kebudayaan.
Baca Juga: Kumpulan Pantun Lucu Tema Lebaran 2022 yang Bisa Dikirim ke Teman, Pacar hingga Orang Tua
Utamanya di sekitar hubungan antara komunitas Baduy dan komunitas muslim di Banten Selatan.
Kata Dosen Universitas Pamulang ini, Geise menelaan antara wilayah kajeroan (dalam) dan penampingan (luar) beserta rincian pranatanya.
Tidak hanya itu, Geise juga meneliti perbedaan keyakinan keagamaan diantara penerus tradisi pra Islam dan komunitas muslim.
Baca Juga: Hukum Tidak Ikut Sholat Idul Fitri Tanpa Udzur, Buya Yahya Menjawab Seperti Ini..
“Geise juga melakukan penelitian terhadap bentuk upacaranya, kisah menyangkut asal usul dan keadaan lingkungan adat, terutama dalam kaitannya dengan budidaya pada dii huma.
Buku asli Badujs en Moslims berbahasa Belanda, karena penulis adalah orang Belanda,” kata Nidu dalam paparannya.
Masih dijelaskan Nidu, Nicolaas Johannes Cornelis Geise melakukan penelitian lapangan selama dua tahun, yaitu sejak tahun 1939 sampai dengan 1941.
Baca Juga: Sejarah Singkat THR, Ternyata Orang Ini yang Jadi Pencetus dan Begini Ide Awalnya
Selama dalam penelitiannya, penulis tinggal di Cipeureu yang merupakan salah satu wilayah penampingan di lokasi penelitian.
“Meskipun Nicolaas Johannes Cornelis Geise orang Belanda, namun Geise sudah mahir dalam menggunakan bahasa Sunda. Sehingga dalam melakukan penelitian lebih mudah diterima oleh masyarakat Baduy,” ujarnya.
Pemilik nama lengkap Endin Saparudin ini menilai, Geise melakukan penelitian dengan sangat teliti dan hati-hati.
Buku ini memaparkan seluk beluk persamaan dan perbedaan masyarakat Baduy dan Islam yang hidup berdampingan di Banten Selatan.
Baca Juga: Konser Tri Suaka dan Zinidin Zidan di HUT Ke 276 Sragen Dibatalkan, Penggantinya Kangen Band?
“Dengan penetilian ini, kita diundang untuk melepaskan berbagai asumsi terhadap dua kelompok tersebut, sehingga kita memiliki hati untuk menghargai mereka apa adanya dan belajar dari kebijaksanaan hidup suku Baduy dan komunitas muslim yang uni,” ungkapnya.
Kelapa Bidang Deposit, Pengembangan Koleksi dan Layanan Perpustakaan pada DPK Banten Evi Syaefudin menyampaikan, kegiatan ini salah satu upaya DPK Banten untuk mengkampanyekan budaya literasi kepada masyarakat.
“Ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan secara live di Instagram dan Facebook Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten,” imbuhnya. ***











