BANTENRAYA.COM – Di tengah maraknya gempuran bisnis ritel modern, nampaknya hal tersebut tak sedikitpun mampu menggoyahkan usaha rakyat berupa ritel tradisional, Warung madura.
Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu daerah yang menjadi sasaran invasi warung madura tersebut.
Orang-orang bisa dengan mudah menemukan warung madura dari di pusat kota bahkan pelosok-pelosok desa.
Baca Juga: Retribusi Uji KIR di Dishub Kabupaten Lebak Dihapuskan, PAD Sebesar Rp 804 Juta Lenyap
Meski memiliki konsep dan penawaran yang sama dengan warung-warung kelontong milik masyarakat lokal, namun nampaknya warung madura memang punya ‘menggemar’ tetap.
Calon pembeli sebagian lebih memilih ke sana ketimbang warung kelontong milik masyarakat lokal Kabupaten Pandeglang.
Pejabat fungsional Bidang Pemberdayaan Koperasi dan UMKM Diskoperindag Kabupaten Pandeglang Doni Romdoni mengatakan, saat ini, warung-warung kelontong warga lokal memang kalah telak dibandingkan dengan warung madura.
Baca Juga: Terancam di Relokasi, Pemkot Serang Klaim Tidak Beratkan Pedagang Stadion Mini Ciceri
Ia menjelaskan secara gamblang bahwa mental, menjadi salah satu faktor penentu kenapa warung Madura lebih cuan ketimbang warung kelontong milik masyarakat lokal Pandeglang.
“Sudah jelas jawabannya, anak kecil juga tahu bahwa mental menjadi alasannya,” katanya.
“Kalau masyarakat kita masih memiliki jiwa konsumtif yang tinggi. Dapet untung dikit langsung jalan-jalan, terus makan enak,” kata Doni kepada Bantenraya.com, Rabu 10 Januari 2024.
Baca Juga: Gadis 15 Tahun asal Ciruas Dibawa Kabur oleh 2 Pria yang Kenal di Medsos
Doni membeberkan, dalam menjalankan usahanya, kebanyakan warung madura di Pandeglang hari ini sudah memahami sistem manajemen bisnis layaknya ritel-ritel modern.
Manajemen tersebut juga dilakukan secara konsisten sehingga menjadi sebuah kebiasaan.
“Kontroling mereka bagus ke karyawan yang mereka pekerjakan ataupun soal keluar masuk barang. Pencatatannya keuangannya juga rapih. Bahkan, ternyata merek itu ada audit loh,” imbuhnya.
Baca Juga: Jadwal Tayang Marry My Husband Episode 5 dan 6 Hingga Tamat Lengkap dengan Spoiler
Tak hanya soal itu, menurut Doni, hal lain yang membedakan yakni soal jam kerja. Kebanyakan warung Madura memang buka hingga tengah malam, beberapa bahkan 24 jam.
“Terus harga yang mereka tawarkan itu juga kan murah. Hampir sama dengan harga grosir. Dari harga aja pedagang lokal udah kalah saing,” tuturnya.
“Jadi rahasianya ya bisa aja warung Madura memangkas harga distribusi atau memang sengaja ngambil untung kecil, tapi yang penting laku banyak,” ucapnya.
Baca Juga: Potensi 2 Pelanggaran Pemilu 2024 di Cilegon Paling Tinggi, Politik Uang dan Netralitas ASN Disorot
Meski keberadaan warung Madura menyaingi warung kelontong masyarakat Pandeglang, tentu hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan kemunduran warung kelontong masyarakat lokal.
Bahkan, harusnya sebuah persaingan bisa lebih memecut masyarakat untuk mengevaluasi bisnisnya hingga menjadi lebih baik. Masyarakat menurutnya harus bisa mengambil pelajaran dari bisnis warung Madura.
“Setidaknya keberadaan warung Madura juga kan bisa memperkerjakan masyarakat kita. Kemudian juga roda ekonomi di Pandeglang berputar,” katanya
Baca Juga: Preview Marry My Husband Episode 5 Sub Indo: Gegara Ini, Park Min Young Terpesona dengan Na In Woo?
“Ya warung Madura juga kan ngisi stok barangnya dengan beli dari agen-agen kita juga,” tandasnya.
Terpisah, menurut pengakuan salah seorang pemilik bisnis warung Madura di Pandeglang, Anas mengatakan bahwa warung miliknya hampir selalu buka selama 24 jam.
Ia sendiri membagi jadwal jaga dengan sang istri Agara tetap memiliki waktu istirahat.
“Siang istri, kalo malam saya. Kalo mau subuh paling kadang tutup. Pagi butanya istri saya udah buka warung. Sering juga sih full 24 jam,” kata Anas.
Baca Juga: BURUAN DAFTAR! PT MSK Honda Banten Buka Loker untuk Dua Posisi Ini
Di Pandeglang sendiri, bisnisnya sudah berjalan selama hampir dua tahun. Selama itu pula, tiap bulannya ia berhasil meraup omzet hingga Rp 25 juta perbulan.
Ia berseloroh bahwa kesuksesannya bisa terjadi berkat kegigihannya yang ia lakukan bersama sang istri secara konsisten.
Ia sendiri memulai usahanya tersebut dengan modal awal hampir Rp 200 juta yang dipergunakan untuk sewa kios, perlengkapan dagangan, dan barang-barang lainnya.
Baca Juga: Bolehkah Puasa Rajab Digabung dengan Qadha Ramadhan? Cek Penjelasannya di Sini
“Ya naik turunlah. Gimana lagi ramenya aja. Kita sengaja jual lebih murah yang penting lakunya banyak,” ujarnya. ***














