• Jumat, 21 Januari 2022

Bedeng Liar Menjamur dan Mencemari Lingkungan, Warga Puri Madani Kota Tangsel Resah

- Minggu, 30 Mei 2021 | 12:39 WIB
IMG-20210530-WA0026
IMG-20210530-WA0026

KOTA TANGSEL - Warga Perumahan Puri Madani 2, di Jalan Griya Mulatama, Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, resah dengan menjamurnya bedeng liar di sekitar permukiman warga terutama di kawasan RT 01, dan 02, RW 12.


Ketua RT 02/12 Perumahan Puri Madani 2 Isran Hasan mengatakan, bedeng liar yang berdiri di lahan kosong hampir setengah lapangan bola ini, pada awalnya dijadikan tempat pemotongan kendaraan bus. Kemudian, bermunculan bedeng lainnya dan bentuknya sudah menjadi bangunan semi permanen untuk jual beli dan reparasi motor tua.



"Awal kronologisnya pada Juni 2019, bedeng pertama yang muncul dijadikan penampungan bus-bus besar lalu dimutilasi. Kami merasa kecolongan karena limbah mutilasi kerangka bus sudah mengotori lingkungan. Tidak jarang mereka membakar ban dan tempat duduk bekas sehingga mengganggu pernafasan dan kesehatan warga. Mesin-mesin yang mereka gunakan juga sangat ribut dan bising. Ini sudah mengganggu ketenangan warga. Kemudian, ketika ada tamu dari warga yang berkunjung bisa menilai lingkungan Puri Madani 2 terlihat kumuh. Bayangkan, di permukiman warga berserakan ban bekas, kursi bekas, oli, karet, serbuk- serbuk dan lain sebagainya yang mencemari lingkungan. Tempat tersebut juga kerap didatangi sejumlah orang yang tidak dikenal oleh pengurus RT. Mereka mengundang atau mendatangkan orang tanpa laporan ke RT dan menimbulkan kerumunan,” keluh Isran dalam keterangan tertulis kepada Banten Raya, Minggu (30/5).


Sebulan setelah berdirinya bedeng pertama, pengurus RT melakukan komplain ke pemilik bedeng agar menghentikan aktivitas.


“Mereka akhirnya datang pada kami setelah kami berikan surat teguran hingga 3 kali dan berjanji akan berhenti menggunakan lahan untuk memutilasi bus-bus.Tetapi, kenyataannya mereka melanggar janjinya dan masih beraktivitas bahkan bedeng lain pun bermunculan," sebut Isran.


Warga sudah melayangkan protes dan aduan ke lurah, camat, hingga walikota Tangsel. Namun, langkah tersebut terbilang nihil atau belum ada respons dari pemerintah setempat sebagaimana diharapkan warga.


“Belum ada yang turun tangan menyelesaikan masalah warga ini. Kami hanya mendapat tanda terima bahwa surat pengaduan telah diterima. Kami sangat berharap agar Pemerintah Kota Tangsel dapat mengambil tindakan tegas terkait sejumlah bangunan liar dan aktivitasnya," tambahnya.


Isran pun yakin aktivitas bedeng sudah melanggar Amdal karena tidak ada izin persetujuan ke warga dan limbahnya merusak lingkungan. Itu sebabnya, ia sangat berharap pemerintah kota Tangsel merespon keluhan warga. ”Kami mau tanah di lingkungan perumahan Puri Madani 2 tidak dimanfaatkan untuk usaha liar, kegiatan yang merusak lingkungan, dan mengganggu ketentraman warga. Sebab, peruntukannya memang bukan untuk usaha,” tegasnya.


Keresahan sangat dirasakan M. Kurniawan (50), warga setemat. Apalagi rumahnya tidak jauh dari bangunan liar itu. "Bedeng-bedeng liar sangat mengganggu hidup kami. Mesin pemotong itu suaranya sangat berisik. Bayangkan, bus-bus yang begitu besar saja suaranya sudah sangat berisik. Apalagi, saat dipreteli dengan mesin. Kemudian, kadang saat malam, mereka membakar sisa-sisa ban dan jok. Tentunya, asap dan bau yang ditimbulkan menggangggu kesehatan kami. Sisa sampah juga membuat tempat itu jadi terlihat makin kotor," kata Kurniawan.


Protes juga datang dari warga lain, Ine (42). Katanya, dulu dia sering bermain badminton di sekitar area tersebut. Tetapi, bedeng-bedeng tersebut sering membakar sampah sehingga tempat yang tadinya biasa ia manfaatkan untuk berolahraga menjadi tidak nyaman dan berbau. Ia pun mengeluhkan kesan kumuh yang ditimbulkan usaha tersebut. "Pagi-pagi udara sudah tercemar oleh pembakaran sampah dari bedeng. Saya pun sampai dikira tinggal di tempat kumuh saat dikunjungi kerabat karena begitu masuk gerbang, pemandangan yang terlihat adalah bangkai bus dan bangunan berisi motor tua. Rasa tidak nyaman juga terasa saat lewat di sekitar bedeng. Sebab, sering tampak sejumlah angsa dari tempat itu yang sering berkeliaran di jalanan umum. Ini tentu membuat warga takut untuk lewat. Belum lagi sering memutar musik dengan sangat kencang hingga mengganggu ketenangan kami," sebutnya.

Halaman:

Editor: Redaksi

Terkini

X