BANTENRAYA.COM – Perang tarif dari Amerika Serikat (AS) dengan China juga berpengaruh pada harga bahan baku produksi tahu dan tempe di Kota Cilegon.
Kepala Dinkop-UKM Kota Cilegon Didin S Maulana mengatakan, kebijakan dari perang tarif AS-China sangat terasa untuk UMKM Kota Cilegon salah satunya pengusaha tahu dan tempe.
“Tentu kerasa bagi UMKM Cilegon terutama kepada pengusaha tahu tempe, karena bahan baku kedelainya itu masih impor termasuk di Kota Cilegon juga,” kata Didin kepada Bantenraya.com, Senin 28 April 2025.
Adanya kebijakan tersebut membuat harga bahan baku kedelai ikut naik di pasaran.
“Karena dollarnya naik, jadi terasa ke kami dampaknya terutama harga kedelai,” ucapnya.
Ia mengungkapakan, harga kedelai sejak Januari sampai April 2025 telah naik sebesar 10 persen.
Baca Juga: Ambil Paksa HP Iphone, IRT di Kabupaten Serang Terancam 15 Tahun Penjara
“Dari Januari itu harga kedelai Rp8,200 dan sekarang di April harganya Rp 9,700, kenaikannya 10 persen,” ungkapnya.
Kata dia, meskipun tahu tempe khas makanan Indonesia namun bahan bakunya dari AS, sehingga adanya kebijaka seperti ini sangat berdampak.
Untuk membantu menekan angka kedelai yang sedang naik di pasaran, Dinkop UKM Cilegon memberikan bantuan penyaluran berupa kedelai untuk pengusaha tahu dan tempe.
Baca Juga: Info Loker PT Multi Kencana Niagatama Penempatan Cikande, Ada Banyak Posisi
“Jadi kami sendiri penyaluran bahan baku kedelainya dengan pihak terkait yang memberika pinjaman ke pengusaha tahu tempe tapi dalam bentuk barang kedelainya ya,” jelasnya.
Sementara itu, Hamdan penjual tahu tempe di Pasar Kranggot Cilegon menambahkan, untuk saat ini harga tahu dan tempe masih normal namun terdapat ukurannya yang berbeda.
“Masih harga normal sekitar Rp 5 ribu, tapi emang ini kelihatannya agak beda ukurannya, mungkin karena pengaruh dari harga bahan bakunya,” ujarnya. ***

















