Kekusutan Minyak Goreng dan Filosofi Batman

- Sabtu, 12 Maret 2022 | 06:02 WIB
Riswanda PhD. (Dokumentasi pribadi.)
Riswanda PhD. (Dokumentasi pribadi.)

Oleh: Riswanda

Sorotan Riswanda (2022, 25 Februari) mengajak perenungan bersama terkait fakta langkanya minyak goreng di negeri penghasil sawit terbesar di dunia (Kompas 2022, 31 Januari).

Tercatat, Indonesia unggul selaku produsen minyak sawit di tangga teratas dunia sejak 2006, melangkahi rangking Malaysia selama tahunan. Produksi sawit Nusantara memenuhi 43,5 juta ton dengan pertambahan hitung panjang sebesar 3,61 persen per tahun. Frasa kunci akselerasi kebijakan, yaitu ‘kecerdasan jejaring’ atau ‘network intellegence’ digarisbawahi Riswanda (2022, 27 Februari).

Kendatipun, ulasan perihal kelangkaan minyak goreng tampaknya masih terus berlanjut, dan terasa paradoks di tengah upaya-upaya lain mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Ekonomi digital tampaknya telah mengubah banyak hal. Mulai dari perilaku, konsumsi, hingga cara berbisnis, yang pada intinya menuntut kemampuan dalam mobilisasi dan orkestrasi sumber daya. Kepiawaian terbilang kini sudah menjadi tuntutan sekaligus “pembeda” demi menghantar keberhasilan. Upaya mencolok, sebetulnya, di sela himpitan dampak kelangkaan minyak di ragam wilayah Nusantara.

Para pelaku usaha kuliner dan masyarakat umum mengeluhkan melambungnya harga minyak goreng di pasaran akhir-akhir ini. Pergerakan liar harga minyak goreng, naik tajam membuat pemerintah harus mampu memberikan solusi. Salah satu cara pemerintah untuk mengatasinya dengan memberikan subsidi.

Tidak tanggung-tanggung, pemerintah menggelontorkan subsidi sebesar 7,6 Triliun yang digunakan untuk membayar selisih harga kepada para pengusaha minyak goreng. Namun pertanyaannya, efektifkah subsidi 7,6 Triliun mengatasi pergerakan liar harga minyak goreng? Lalu, apa hubungan kekusutan minyak goreng dengan filosofi Batman?

Filosofi Batman dan rujukan superhero populer lain ikut meramaikan pembelajaran filsafat di beberapa Universitas ternama Amerika (BBCNews 2010, 12 Agustus). Menarik mencermati bagaimana penafsiran kritis ‘tradisi Socrates’ dihubungkan dengan nilai pembelajaran kekinian. Socrates mentradisikan ‘analog’ dan ‘mitologi pertanian’ sambil berjalan-jalan di Athena.

Berdialog perihal nilai filosofi yang ingin disampaikan melalui bahasa kebanyakan orang — blending in, put your shoes in their shoes. Apa maknanya? Bercermin dan terinspirasi, sekaligus mengambil pelajaran dari senior, sejawat, dan bahkan tokoh fiksi idola adalah lumrah.

Batman mengajarkan bahwa perbuatan Kita, bisa jadi mengungkai siapa diri Kita. Batman juga memandu diskusi filsafat bahwa nilai kepahlawanan dapat diterapkan oleh siapa saja. Dimulai dari hal kecil dan sederhana dan tidak melulu mesyaratkan power luar biasa dari seorang individu.

Riswanda PhD
Riswanda PhD

Menukil langsung kalimat Bruce Wayne sebagai tokoh utama sinema Batman: ‘A hero can be anyone, even a man doing something as simple and reassuring as putting a coat on a young boy’s shoulders to let him know that the world hadn’t ended’. Hubungannya dengan kekusutan langka minyak goreng saat ini? Jika saja oknum-oknum penimbun minyak dan para pembeli panik (panic buyers) memiliki nilai kepahlawanan seperti terurai dalam filosofi Batman, niscaya kelangkaan cepat teratasi.

Arkian, andai saja para pemegang kedaulatan keputusan kebijakan berkenan untuk blending in, seperti Socrates, dan tidak miskin empati dengan put their shoes in the shoes of those surviving poverty, maka mungkin kelangkaan ini tidak akan pernah terjadi.

Pengoplos solar pada minyak goreng curah juga barangkali tidak ada. Semestinya, pembelajaran filosofi Batman turut mengilhami perancang cetak biru kebijakan, untuk belajar dari kelangkaan bawang dan garam di masa lalu. ‘The formulation of public policies builds on learning from experiences [...] In these challenges and many others, learning from past mistakes’ (Moyson, Scholten, Weible 2017).

Halaman:

Editor: M Hilman Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kembali membicarakan IKN

Selasa, 27 September 2022 | 17:41 WIB

RUU PRT, Lalai Anasir Perlindungan Anak

Rabu, 14 September 2022 | 09:43 WIB

Makna Emotif Penataan Kebijakan Sosial

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 15:49 WIB

Melampaui Perbahasan Stunting

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:53 WIB

Hal Ihwal Desain Kesejahteraan Publik

Rabu, 20 Juli 2022 | 06:17 WIB

Cut off Inovasi Muluk, Bidik Pangkal Masalah

Sabtu, 2 Juli 2022 | 16:44 WIB

Mendendangkan Kebijakan Vokasi, Sudah Jitu kah?

Jumat, 24 Juni 2022 | 03:31 WIB

Mempercakapkan Social Enterprise

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:46 WIB

Stigma yang Terlupakan

Selasa, 17 Mei 2022 | 11:00 WIB

Payung Pelindung Ruang Aman bagi Perempuan

Jumat, 6 Mei 2022 | 08:10 WIB

Dialektika Kebijakan, dan Bukan Drama

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:00 WIB

Titian Perkotaan dan Perdesaan

Jumat, 6 Mei 2022 | 01:06 WIB

ATM Beras sampai Subsidi, Ukuran Sejahtera?

Senin, 18 April 2022 | 15:24 WIB

Conundrum Cuti Bersama dan Teguran Berempati

Minggu, 17 April 2022 | 13:37 WIB

Fakta Menarik Politik, Seputar Lingkaran Mistis

Sabtu, 2 April 2022 | 05:53 WIB

Bangga Buatan Indonesia, Mau Dibawa Kemana?

Jumat, 1 April 2022 | 06:22 WIB

Kekusutan Minyak Goreng dan Filosofi Batman

Sabtu, 12 Maret 2022 | 06:02 WIB

KKB, Arsitektur Sosial dan Silaturahmi Pemikiran

Sabtu, 12 Maret 2022 | 05:53 WIB
X