• Senin, 23 Mei 2022

Keniscayaan hadirnya UU TPKS

M Hilman Fikri
- Senin, 17 Januari 2022 | 10:28 WIB
Riswanda PhD. (Dokumentasi pribadi.)
Riswanda PhD. (Dokumentasi pribadi.)

Oleh: Riswanda PhD

Sorotan publik terhadap maraknya peristiwa kekerasan seksual diekspresikan dalam bentuk markah pakaian kekerasan seksual di pagar gedung DPR RI, bertepatan peringatan hari ibu akhir tahun lalu.

Liputan mural (Kompas 2021, 11 Januari) bertema dukungan peneguhan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS), seolah mewakili suara beragam lapisan masyarakat. Utamanya aliansi kelembagaan komunitas perempuan Indonesia.

Petunjuk Presiden Joko Widodo untuk melajukan RUU TPKS sehaluan dengan tanggapan Ketua DPR RI Puan Maharani.

Bahwa intervensi kebijakan di ranah perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, khususnya perempuan, sudah genting sifatnya.
Meskipun, sepertinya penekanan di penanganan korban tidak cukup. Kupasan RUU ini perlu juga mencakup sampai kepada akar masalah, menilik adab atau karakter pelaku. Belum lagi perihal respon hukum aparat, dan tentunya kebijakan monitoring kasus. Kenapa harus sampai kesana? Miris, membaca uraian kasus viral seorang remaja perempuan berusia 14 di Bandung (DeskJabar 2021, Kompas 2021), korban penculikan dan pemerkosaan sekaligus mangsa Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) saat didagangkan via aplikasi pesan singkat.
Mudah barangkali sekadar menilai delik pidana yang akan menjerat pelaku, plus eksposur rentetan kejadian, diakhiri ungkapan iba, ditambah penyertaan drama klasik motif ekonomi.

Pekerjaan rumah selanjutnya, bagaimana bentuk kontribusi multi-pihak di RUU TPKS agar perkara seperti ini dapat dicegah, jika mungkin terhapus sama sekali dari Nusantara.

Nalar kritis dan bekal literasi berwibawa cocok membahas kemestian peneguhan RUU TPKS. Basis data kategoris penunjang kehadiran UU ini ke depan harus seiring sejalan.

Pertama, apa saja entry point yang ingin diusung sebuah perundangan. Apakah misalnya lebih kepada ‘Kekerasan seksual dan prostitusi anak: sebuah catatan sosial perkotaan’(Riswanda 2017, Banten Raya 31 Juli).

Jika pendalaman dimulai dari dialog ketahanan keluarga, maka akan seperti apa UU TPKS nantinya memberi mandat pada BKKBN, Kementerian Sosial dan jajaran terkait. Jangan sampai, judul baru dengan kisah program lama mewarnai langkah aksi turunan TPKS.

Halaman:

Editor: M Hilman Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mempercakapkan Social Enterprise

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:46 WIB

Stigma yang Terlupakan

Selasa, 17 Mei 2022 | 11:00 WIB

Payung Pelindung Ruang Aman bagi Perempuan

Jumat, 6 Mei 2022 | 08:10 WIB

Dialektika Kebijakan, dan Bukan Drama

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:00 WIB

Titian Perkotaan dan Perdesaan

Jumat, 6 Mei 2022 | 01:06 WIB

ATM Beras sampai Subsidi, Ukuran Sejahtera?

Senin, 18 April 2022 | 15:24 WIB

Conundrum Cuti Bersama dan Teguran Berempati

Minggu, 17 April 2022 | 13:37 WIB

Fakta Menarik Politik, Seputar Lingkaran Mistis

Sabtu, 2 April 2022 | 05:53 WIB

Bangga Buatan Indonesia, Mau Dibawa Kemana?

Jumat, 1 April 2022 | 06:22 WIB

Kekusutan Minyak Goreng dan Filosofi Batman

Sabtu, 12 Maret 2022 | 06:02 WIB

KKB, Arsitektur Sosial dan Silaturahmi Pemikiran

Sabtu, 12 Maret 2022 | 05:53 WIB

Valentine Bukanlah Kearifan Lokal

Rabu, 16 Februari 2022 | 18:27 WIB

Learn, Unlearn, Relearn

Kamis, 10 Februari 2022 | 17:41 WIB

Takrif Guru Besar di Indonesia

Jumat, 4 Februari 2022 | 14:57 WIB

Kuliah 4.0

Kamis, 27 Januari 2022 | 09:43 WIB

Keniscayaan hadirnya UU TPKS

Senin, 17 Januari 2022 | 10:28 WIB

Mendemokrasikan Kampanye: Sebuah Catatan Kebijakan

Jumat, 7 Januari 2022 | 09:46 WIB
X