• Selasa, 9 Agustus 2022

Cipta Daya Saing Unggul

- Senin, 18 Oktober 2021 | 20:20 WIB
Riswanda PhD.  (istimewa)
Riswanda PhD. (istimewa)

Oleh: Riswanda PhD

Tagar menarik ‘Future Dosen, Jangan Jadi Dosen Kadaluarsa’ menggelitik disampaikan oleh Rumah Perubahan (2021) di sebuah jejaring sosial.

Membarui kecakapan insan akademis di lingkungan pendidikan tinggi semestinya memang perlu hadir ke dalam sorotan kebijakan yang lebih kritis. Menukil frasa Rumah Perubahan, jangan sampai terjadi ‘skill dan masa depan di masa lalu yang terus dibawa. Sementara, dunia luar sana bergerak dengan skill masa depan yang dibawa ke hari ini’.

Pemikiran ini sebangun dengan cetak tebal ‘Perihal Ketenagakerjaan’ (Sorotan Riswanda 2021, Banten Raya, 15 September). Meskipun, kecermatan memintas era hyper-connected tidak kalah penting. Dialog insan berdaya saing unggul jangan sampai terjebak di pemahaman keinsafan dunia maya.

‘Keterampilan mutakhir justru lebih pada ukuran andal berpikir dibanding hanya sekedar melek digital’. Apa maksud dari kalimat terakhir? Terdapat sedikitnya dua bahasan tersangkut cipta daya saing unggul di ranah perguruan tinggi.

Sorotan kebijakan prima dapat dimulai dari tinjauan perundangan tentang dosen. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen, cukup normatif menjabarkan bidang pekerjaan khusus profesi ini tersisip pelbagai prasyarat yang harus ditempuh untuk menjadi ilmuwan.

Menarik sebetulnya menyelami lebih lanjut penekanan kata ‘ilmuwan’ dan ‘prasyarat’. Lebih lagi jika kita merenungkan kembali makna ‘kemerdekaan belajar’ (Sorotan Riswanda, 2021, Banten Raya, 17 Agustus). Angkat topi untuk Menteri Kemdikbud-Ristek atas gebrakan MBKM melalui Permendikbud 3/ 2020.

Riswanda PhD. (istimewa)

Semoga saja regulasi ini ditafsirkan tepat oleh eksekutor kebijakan. Perenungan kritis sederhana, bukankah Professor, semestinya diambil dari kata ‘professional’ — spesialis / pakar / ilmuwan? Ruang prasyarat menggapai profesionalitas akademis tentu tepat berpijak ukuran penilaian cakap akademis, dan bukan condong pada ukuran lengkap administrasi.

Halaman:

Editor: M Hilman Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Melampaui Perbahasan Stunting

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:53 WIB

Hal Ihwal Desain Kesejahteraan Publik

Rabu, 20 Juli 2022 | 06:17 WIB

Cut off Inovasi Muluk, Bidik Pangkal Masalah

Sabtu, 2 Juli 2022 | 16:44 WIB

Mendendangkan Kebijakan Vokasi, Sudah Jitu kah?

Jumat, 24 Juni 2022 | 03:31 WIB

Mempercakapkan Social Enterprise

Minggu, 22 Mei 2022 | 20:46 WIB

Stigma yang Terlupakan

Selasa, 17 Mei 2022 | 11:00 WIB

Payung Pelindung Ruang Aman bagi Perempuan

Jumat, 6 Mei 2022 | 08:10 WIB

Dialektika Kebijakan, dan Bukan Drama

Jumat, 6 Mei 2022 | 07:00 WIB

Titian Perkotaan dan Perdesaan

Jumat, 6 Mei 2022 | 01:06 WIB

ATM Beras sampai Subsidi, Ukuran Sejahtera?

Senin, 18 April 2022 | 15:24 WIB

Conundrum Cuti Bersama dan Teguran Berempati

Minggu, 17 April 2022 | 13:37 WIB

Fakta Menarik Politik, Seputar Lingkaran Mistis

Sabtu, 2 April 2022 | 05:53 WIB

Bangga Buatan Indonesia, Mau Dibawa Kemana?

Jumat, 1 April 2022 | 06:22 WIB

Kekusutan Minyak Goreng dan Filosofi Batman

Sabtu, 12 Maret 2022 | 06:02 WIB

KKB, Arsitektur Sosial dan Silaturahmi Pemikiran

Sabtu, 12 Maret 2022 | 05:53 WIB

Valentine Bukanlah Kearifan Lokal

Rabu, 16 Februari 2022 | 18:27 WIB

Learn, Unlearn, Relearn

Kamis, 10 Februari 2022 | 17:41 WIB
X