• Jumat, 28 Januari 2022

Cipta Daya Saing Unggul

- Senin, 18 Oktober 2021 | 20:20 WIB
Riswanda PhD.  (istimewa)
Riswanda PhD. (istimewa)

Oleh: Riswanda PhD

Tagar menarik ‘Future Dosen, Jangan Jadi Dosen Kadaluarsa’ menggelitik disampaikan oleh Rumah Perubahan (2021) di sebuah jejaring sosial.

Membarui kecakapan insan akademis di lingkungan pendidikan tinggi semestinya memang perlu hadir ke dalam sorotan kebijakan yang lebih kritis. Menukil frasa Rumah Perubahan, jangan sampai terjadi ‘skill dan masa depan di masa lalu yang terus dibawa. Sementara, dunia luar sana bergerak dengan skill masa depan yang dibawa ke hari ini’.

Pemikiran ini sebangun dengan cetak tebal ‘Perihal Ketenagakerjaan’ (Sorotan Riswanda 2021, Banten Raya, 15 September). Meskipun, kecermatan memintas era hyper-connected tidak kalah penting. Dialog insan berdaya saing unggul jangan sampai terjebak di pemahaman keinsafan dunia maya.

‘Keterampilan mutakhir justru lebih pada ukuran andal berpikir dibanding hanya sekedar melek digital’. Apa maksud dari kalimat terakhir? Terdapat sedikitnya dua bahasan tersangkut cipta daya saing unggul di ranah perguruan tinggi.

Sorotan kebijakan prima dapat dimulai dari tinjauan perundangan tentang dosen. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen, cukup normatif menjabarkan bidang pekerjaan khusus profesi ini tersisip pelbagai prasyarat yang harus ditempuh untuk menjadi ilmuwan.

Menarik sebetulnya menyelami lebih lanjut penekanan kata ‘ilmuwan’ dan ‘prasyarat’. Lebih lagi jika kita merenungkan kembali makna ‘kemerdekaan belajar’ (Sorotan Riswanda, 2021, Banten Raya, 17 Agustus). Angkat topi untuk Menteri Kemdikbud-Ristek atas gebrakan MBKM melalui Permendikbud 3/ 2020.

Riswanda PhD. (istimewa)

Semoga saja regulasi ini ditafsirkan tepat oleh eksekutor kebijakan. Perenungan kritis sederhana, bukankah Professor, semestinya diambil dari kata ‘professional’ — spesialis / pakar / ilmuwan? Ruang prasyarat menggapai profesionalitas akademis tentu tepat berpijak ukuran penilaian cakap akademis, dan bukan condong pada ukuran lengkap administrasi.

Halaman:

Editor: M Hilman Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kuliah 4.0

Kamis, 27 Januari 2022 | 09:43 WIB

Keniscayaan hadirnya UU TPKS

Senin, 17 Januari 2022 | 10:28 WIB

Mendemokrasikan Kampanye: Sebuah Catatan Kebijakan

Jumat, 7 Januari 2022 | 09:46 WIB

Membicarakan Capacity Building

Sabtu, 25 Desember 2021 | 19:00 WIB

Pendidikan Tanggap Dunia Kerja

Minggu, 12 Desember 2021 | 06:00 WIB

Catatan UU Ciptaker Selepas Putusan MK

Minggu, 5 Desember 2021 | 06:27 WIB

Meningkah Permendikbudristek 30 Tahun 2021

Senin, 29 November 2021 | 21:00 WIB

De-generasi Petani: Sorotan Sosial-Politik

Senin, 22 November 2021 | 06:37 WIB

Menaksir Intervensi Sosial

Rabu, 10 November 2021 | 18:30 WIB

Menyambung Daya Tahan Sosial Selepas Pandemi

Rabu, 3 November 2021 | 10:15 WIB

Memadamkan Ruang Bisnis Pornografi

Rabu, 27 Oktober 2021 | 13:40 WIB

Cipta Daya Saing Unggul

Senin, 18 Oktober 2021 | 20:20 WIB

Inovasi Sektor Publik: Apakah Sekadar Slogan?

Jumat, 15 Oktober 2021 | 17:21 WIB

Mempertikaikan RUU PKS

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 09:51 WIB

Mengurai Regulasi Tembakau

Kamis, 30 September 2021 | 20:26 WIB

Mungkinkah Menihilkan Kekerasan pada Anak?

Rabu, 22 September 2021 | 19:08 WIB

Perihal Ketenagakerjaan

Rabu, 15 September 2021 | 21:54 WIB
X