• Sabtu, 18 September 2021

Perihal Ketenagakerjaan

- Rabu, 15 September 2021 | 21:54 WIB
Riswanda PhD.  (istimewa)
Riswanda PhD. (istimewa)

Oleh: Riswanda

Era hyper-connected memanggil insan berdaya saing unggul. Hiperkonektivitas sering diartikan sebagai penggunaan pancawarna sistem dan perangkat yang dapat menjejaringkan sumber informasi bagi penggunanya. Konektivitas internet menjadi kunci sosial keterhubungan antar invidu, dan berimbas pada pola interaksi antar lembaga.

Kelembagaan kerja adalah salah satu penerima imbas. Pemahaman populer ‘revolusi industri 4.0’ berikut sembilan pilar usungan jargon ini mencuat dalam diskusi ketenagakerjaan. Lingkup diskusi dimana sektor tenaga kerja menjadi sorotan lebih. Mengapa begitu?

Pertama, sedikitnya enam dari kesembilan pilar ‘revolusi industri 4.0’, bukan sekedar jargon kosong. Internet of things, cloud computing, big data analytics, artificial intelligence, super apps dan broadband infrastructure berdampak serius pada tipe kebutuhan tenaga kerja.

Tenaga kerja tanggap digital dapat dengan mudah menggeser pasaran pekerja konvensional. Tentu saja pemahaman keterampilan digital tidak terbatas pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Riswanda (2020, KORAN SINDO, 2 September) menekankan keterampilan multi-tasking sebagai kebutuhan primer diskursi ketenagakerjaan, ‘melecut penciptaan lapangan kerja yang berkualitas sebanyak 2,7 sampai 3 juta per tahun’ adalah haluan bersama.

Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 122 tahun 2020 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah tahun 2021, mempercepat pemulihan ekonomi dan reformasi sosial, tepat mengisi diskursi ini. Prioritas Nasional 3, ‘Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing’ semestinya menggarisbawahi matriks pengaktualan program kerja pemerintah di situasi pandemi COVID-19. Penciptaan lapangan kerja baru berkualitas secara mahardika, sebenarnya mampu meyepadankan program pemulihan ekonomi dengan penanganan dampak pandemi.

Kedua, kompleksitas dunia kerja kontemporer sepertinya melabelkan kemewahan bagi pekerja untuk bisa nyaman mengerjakan satu saja jenis pekerjaan dalam satu waktu. Pada banyak tipe pekerjaan kekinian, pemberi kerja biasanya memilih pekerja yang sanggup menangani multi-prioritas sekaligus.

Semakin kompetitif ketersediaan lapangan kerja, menyempit pula pilihan bagi pekerja untuk tidak ikut menyesuaikan keterampilan dan kesanggupan multi-tasking. Kecakapan merotasikan pikiran dan konsentrasi dari satu aktivitas kerja ke aktivitas lain, disambi kemampuan memilah mana yang harus didahulukan berdasarkan bobot prioritas, bisa dikatakan penjelasan sederhana dari multi-tasking skills. Jadi, cukup jelas bahwa keterampilan mutakhir justru lebih pada ukuran andal berpikir dibanding hanya sekedar melek digital.

Riswanda PhD. (istimewa)

Halaman:

Editor: M Hilman Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Perihal Ketenagakerjaan

Rabu, 15 September 2021 | 21:54 WIB

Mengulas Kemerdekaan Belajar

Selasa, 17 Agustus 2021 | 21:49 WIB
X