• Minggu, 23 Januari 2022

Pembahasan UMP Banten 2022 Terkendala SE Menaker

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 08:00 WIB
Ilustrasi UMP Banten 2022. Pembahasan UMP sendiri belum bisa dilakukan karena SE dari Menaker belum juga turun. ( EmAji/pixabay.com)
Ilustrasi UMP Banten 2022. Pembahasan UMP sendiri belum bisa dilakukan karena SE dari Menaker belum juga turun. ( EmAji/pixabay.com)

BANTENRAYA.COM - Pemprov Banten belum juga memulai pembahasan terkait penetapan upah minimum Provinsi (UMP) Banten 2022.

Hal tersebut terjadi karena belum turunnya Surat Edaran (SE) dari Menteri Tenaga Kerja (Menaker) sebagai acuan pembahasan.

Kepala Seksi Pengupahan dan Jaminan Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau Disnakertrans Banten Karna Wijaya mengatakan bahwa pihaknya hingga kini belum melakukan pembahasan penetapan UMP yang akan diberlakukan pada tahun depan.

Baca Juga: Jadwal Liga Champions Malam Ini: Barcelona Jamu Dynamo Kyiv, Manchester United Ladeni Atalanta 

“Tahapan penetapan upah minimum belum dimulai,” ujarnya, kemarin.

Ia menuturkan, pembahasan UMP Banten 2022 baru akan dibahas ketika pihaknya telah menerima SE Menaker sebagai acuan dalam penetapan upah minimum tersebut. Diperkirakan, SE tersebut baru akan turun pada awal bulan depan.

“Menunggu SE Menaker yang diperkirakan (turun) awal November,” katanya.

Baca Juga: Sentil Pemkot Serang Soal Tempat Hiburan Malam dan Peredaran Miras, FSPP: Kota Serang Katanya Madani tapi.... 

Meski belum menerima SE dari Menaker, lanjut Karna, pihaknya telah menerima ketentuan terkait penetapan upah minimum 2022 dari Kemenaker.

Secara garis besar, Undang-undang nomor 11 tahun 2020 tentang cipta kerja menjadi landasan dalam penetapan upah minimum.

“PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan sebagai turunan Undang-undang tentang Cipta Kerja mengamanatkan 20 jenis data yang akan dipergunakan dalam penetapan upah minimum dan upah bagi UKM,” ungkapnya.

 Baca Juga: Rangkuman Liga Champions Tadi Malam: Real Madrid dan Manchester City Pesta Gol, AC Milan Kembali Keok

Karna memaparkan, sebelumnya penetapan upah minimum mengacu pada PP nomor 78 tahun 2015. Dengan ketentuan yang pertama, hanya terdapat 1 jenis formula perhitungan upah minimum.

Kedua, terdapat 2 data yang digunakan dalam formula perhitungan upah minimum, yaitu pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Ketiga,  data yang digunakan hanya menggunakan data tingkat nasional.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Panik Menurut dr Zaidul Akbar 

Sedangkan pada PP nomor 36 tahun 2021, pertama, terdapat 2 jenis formula, yaitu formula penyesuaian upah minimum bagi daerah yang telah memiliki upah minimum.

Lalu formula penetapan upah minimum bagi daerah yang baru akan menetapkan upah minimum. 

“Ketentuan kedua, terdapat 10 data yang digunakan dalam formula penyesuaian upah minimum baik pada tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota," katanya.

Baca Juga: Nikita Mirzani Ungkap Rachel Vennya Kabur dari Karantina Tidak Cuma Sekali

"Ketiga, terdapat 8 data yang digunakan dalam formula penetapan upah minimum baik pada tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota,” paparnya.

Soal batas waktu penetapan, baik untuk UMP dan UMK akan ditetapkan dalam wkatu yang berdekatan. UMP ditetapkan pada tanggal 21 November setiap tahunnya.

“Sementara UMK ditetapkan paling lambat pada tanggal 30 November setiap tahunnya,” tuturnya.

Baca Juga: Hasil Pertandingan Victor Denmark Open Malam ini, Tim Indonesia Sukses namun Ada Satu Ganda Campuran Kalah 

Kepala Disnakertrans Provinsi Banten Al Hamidi mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih pada tahap sosialisasi pada Dewan Pengupahan Kabupaten/kota.

“PP Nomor 78 (2020) ke PP 36 (2021) berubah kan sekarang. Ada perhitungan yang ditentukan oleh (data) statistik,” ujarnya.

Seperti diketahui, untuk tahun ini Gubernur Banten Wahidin Halim menetapkan besaran UMP Banten 2021 sama dengan tahun sebelumnya yaitu di angka Rp2.460.994,54.

Baca Juga: Carli, Tersangka Pembunuh Penjaga Pantai Marbella Terancam Hukuman Mati

Tidak adanya kenaikan standar upah terjadi lantaran pertimbangan kondisi perekonomian pada masa pandemi Covid-19.

 Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Banten Nomor 561/kep.253-Huk/2020 tentang Penetapan UMP Banten Tahun 2021 yang ditandatangani pada 31 Oktober 2020.

 Sementara besaran UMK kabupaten/kota tersebut dalam Keputusan Gubernur Banten Nomor 561/Kep.272-Huk/2020 tentang Penetapan UMK di Provinsi Banten 2021.

Baca Juga: Rans FC Tundukan Badak Lampung, Tarik El Janaby Selamatkan Muka Raffi Ahmad 

Adapun rincian besaran UMK terdiri atas Kabupaten Pandeglang Rp2.800.292,64, Kabupaten Lebak Rp2.751.313,81, Kabupaten Serang Rp4.251.180,86 dan Kabupaten Tangerang Rp4.230.792,65.

Selanjutnya Kota Tangerang Rp4.262.015,37, Kota Tangerang Selatan Rp4.230.792,65, Kota Serang Rp3.830.549,10 dan Kota Cilegon Rp4.309.772,64. ***

 

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Jermainne Tirta Dewa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemprov Banten Serahkan LKPD TA 2021 Lebih Awal

Jumat, 21 Januari 2022 | 14:00 WIB

BAZNAS Banten Raih Dua Award Sekaligus

Senin, 17 Januari 2022 | 15:52 WIB

Kemenggelembungan Silpa Banten

Jumat, 14 Januari 2022 | 11:16 WIB
X