• Kamis, 27 Januari 2022

Peserta Ujian PPPK Asal Cilegon Buat Surat Terbuka ke Menteri Nadiem, Lulus Passing Grade Tapi…

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 18:28 WIB
 Peserta Ujian PPPK Kota Cilegon Heti Kustrianingsih menunjukan nilai lulus passing grade tapi tidak jadi PPPK.  (Uri/BantenRaya.com)
Peserta Ujian PPPK Kota Cilegon Heti Kustrianingsih menunjukan nilai lulus passing grade tapi tidak jadi PPPK. (Uri/BantenRaya.com)

BANTENRAYA.COM - Peserta Ujian tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK Guru di Kota Cilegon Heti Kustrianingsih membuat surat terbuka untuk Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi atau Kemenbud Ristek Nadiem Makarim.

Surat tersebut ditujukan Peserta Ujian PPPK Kota Cilegon Heti Kustrianingsih karena nilainya melewati Passing Grade yang ditentukan. Namun, tidak lulus karena nilai afirmasi 75 point atau 15 persen yang tidak masuk dalam nilai.

Menurut Peserta Ujian PPPK Kota Cilegon Heti Kustrianingsih disisi lain, alasannya adalah karena dirinya bukan guru induk yang mengajar di sekolah tersebut.

Baca Juga: Sabtu Malam ini Greenotel Cilegon Kembali Gelar Barbeque Reborn, Tawarkan Konsep All You Can Eat

Terlebih, papar Heti, Kemendikbud Ristek tidak konsisten dengan penerapan passing grade yang sudah ditentukan untuk guru SMP mata pelajaran Prakarya dan Wirausaha yang ditentukan 250.

Heti menyampaikan, dirinya sudah menyampaikan sanggahan dan menunggu hasil sanggahan tersebut.

“Masa sanggah belum keluar. Namun, saya tetap diatas passing grade. Sudah melakukan sanggahan dan masih menunggu,” imbuhnya kepada wartawan, Jumat 15 Oktober 2021.

Dirinya menilai, dalam ujian murni mendapatkan nilai 260 poin, namun dalam nilai afirmasi harusnya ditambahkan 75 point menjadi 335 poin. Namun, ternyata nilainya tidak ditambahkan berdasarkan hasil yang diterimanya.

Baca Juga: Shorinji Kempo Banten Belum Tancap Gas Poll di PON XX, Ketua Perkemi Banten Ungkap Penyebabnya

“Passing grade saya paling tinggi dari 3 peserta lainnya yaitu 260 dan ada satu yang dibawah Passing grade 250 poin yang ditentukan yaitu 235 poin saja,” paparnya.

“Tapi ternyata nilai afirmasi saya tidak ditambahkan 75 poin. atau masih sama 260 point. Itu membuat nilai total saya hanya 476, jika ditambahkan 75 point harusnya saya diterima,” imbuhnya.

Heti menambahkan, dirinya ikut tes PPPK Guru untuk formasi guru mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Cilegon. Ada 4 peserta yang ikut dan nilai tes passing grade yang diperolehnya tertinggi. Bahkan ada satu yang tidak lulus passing grade yaitu nilainya hanya 235 saja.

Namun, dengan alasan guru induk ia tetap masuk.

Baca Juga: Masyarakat NTB Sangat Terbantu, Pemerintah Terus Tingkatkan Program Kartu Prakerja

“Saya tertinggi. Tapi ada yang tidak lulus passing grade. Untuk apa kami berjuang lulus passing grade jika akhirnya begini,” ujarnya.

Heti menyampaikan, ada sekitar 14 guru yang mendapatkan nilai tinggi tapi tidak lulus. Dirinya juga merasa jika kementerian tidak konsisten dengan awal menerapkan passing grade namun ternyata berubah lagi.

“Kami sudah payah dari 900 ribu peserta bisa lulus passing grade yang hanya 10 persen saja. Susah payah mendapatkan passing grade namun diabaikan.” ***

Halaman:
1
2

Editor: Muhaemin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X