• Selasa, 18 Januari 2022

Ironi Aksara Pegon, Menjadi Tamu di Rumah Sendiri

- Kamis, 9 September 2021 | 18:42 WIB
Iwan Sudiana memperlihatkan tiga buku 'Latihan Penulisan Aksara Pegon, buatannya sendiri, Kamis, 9 September 2021. (M Tohir/Banten Raya)
Iwan Sudiana memperlihatkan tiga buku 'Latihan Penulisan Aksara Pegon, buatannya sendiri, Kamis, 9 September 2021. (M Tohir/Banten Raya)

 

BANTENRAYA.COM - Ada ironi pada aksara pegon yang merupakan aksara khas Nusantara, khususnya Jawa dialek Banten.

Di sejumlah daerah di Indonesia aksara pegon digunakan di ruang publik.

Bahkan di Malaysia dan Brunei Darussalam, aksara pegon atau dikenal dengan dengan sebutan aksara Jawi oleh warga Malaysia, banyak digunakan untuk penamaan gedung dan kantor pemerintahan.

Baca Juga: Mengenal Pegon, Aksara Banten Peninggalan Syekh Nawawi

"Di Banten sendiri belum ada nama jalan, gedung pemerintahan, maupun fasilitas umum yang menggunakan aksara Pegon," kata Iwan Sudiana, penulis buku "Pedoman Penulisan Aksara Pegon" kepada Bantenraya.com, Kamis, 9 September 2021.

Maka, aksara Pegon yang dikembangkan oleh Syeikh Nawawi, ulama besar kelahiran Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, ini seperti menjadi tamu di rumah sendiri.

Iwan mengaku sering diundang oleh beberapa daerah di Indonesia untuk mengajarkan aksara Pegon. Sejumlah daerah yang memintanya untuk mengajari aksara Pegon di antaranya adalah Bandung, Pulau Bangka, Pulau Belitung, Batam, Jambi, dan lain-lain.

Baca Juga: Malaysia dan Brunei Darussalam Gunakan Aksara Pegon di Fasilitas Umum

Tidak hanya mempelajari bahkan sejumlah daerah di Indonesia menerapkan aksara Pegon di fasilitas publik yang mereka miliki. 

Halaman:

Editor: Jermainne Tirta Dewa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X