BANTENRAYA.COM – Warga terdampak banjir yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Cilegon Darurat Banjir (AMCDB) menilai banjir besar yang merendam 21 kelurahan di 6 kecamatan Kota Cilegon adalah akibat tambang dan Kawasan industri.
Di mana, diperkirakan tambang menyumbang 35 persen dan kawasan industri 65 persen penyebab atau biang kerok banjir besar di Kota Cilegon.
Atas dasar itu, maka industri harus bertanggungjawab dalam menyelesaikan permasalah dalam jangka panjang di Cilegon tersebut.
BACA JUGA: Datangi SPPG Sobang Jaya, Wabup Pandeglang Langsung Wanti-wanti: Jangan Sampai…….
Diketahui, banjir besar melanda Kota Cilegon selama 3 hari pada Jumat 2 Januari sampai Minggu 4 Januari 2026.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon banjir besar melanda 21 kelurahan di 6 kecamatan di Kota Cilegon yakni Kecamatan Jombang dengan merendam 1.691 rumah atau kepala keluarga (KK).
Kecamatan Purwakarta rendam 200 rumah atau KK, Kecamatan Ciwandan 800 rumah atau KK, Kecamatan Cilegon 182 rumah atau KK, Citangkil 153 rumah atau KK, Kecamatan Cibeber 2.293 rumah atau KK.
BACA JUGA: Ketua DPRD Lebak Dukung Revitalisasi Lanjutan Alun-alun Rangkasbitung, tapi….
Jumlah jiwa yang menjadi korban banjir sendiri total mencapai 12.533 jiwa di 21 kelurahan 6 kecamatan di Kota Cilegon.
Ketua AMCB Muhammad Ibrohim Aswadi menyatakan, masalah ihulu itu tambang sekitar 35 persen penyumbang masalah banjir.
Terbesar sendiri yakni Kawasan industri. Sebagian besar pesisir pantai atau hilir itu digunakan untuk berdirinya pabrik dan industri.
BACA JUGA: Pasca Banjir Kota Serang, Nur Agis Aulia Ikut Jumat Bersih Kali Mati
“Melakukan rekondisi ulang, reversiasi, penataan, pengawasan dan sebagainya. Itu kurang lebih menyumbang wilayah hulu itu 35, yang paling besar itu ada di wilayah industri sebenarnya, hampir 65 persen,” tuturnya.
“Itu karena aliran ke laut lepas itu, wilayah bibir pantai itu, sudah dipakai oleh seluruh industri. Itu harus bertanggung jawab, jangan berpangku tangan, jangan menyerahkan ke pemerintah daerah, karena mereka yang pakai,” katanya, Jumat 9 Januari 2026.
Ibrohim mengungkapkan, penataan di laut lepas atau pantai dan sekarang menjadi industri harus dibenahi. Hal itu karena aliran kali yang ada sekitar 21 aliran sudah beralih menjadi industri.
Ke depan, harus ada Low Water Spring yang bisa menampung jutaan kubik air sepanjang industri, itu harus disiapkan.
“Itu masih ada lahan sepanjang Kawasan industri, maka itu harus dibangungkan LWS, sehingga bisa menampung jutaan kubik air. Jadi saat hujan lebat dan pasang air tertampung semuanya. Itu bisa jutaan kubik yang ditampung,” ungkapnya.
Bagaimana industri bergerak, tegas Ibrohim, ada dana CSR yang nilainya jika dikumpulkan semuanya sebanyak ratusan miliar. Itu bisa secara jangka Panjang menyelesaikan.
“Ada tanggung jawab sosial. itu wajib sifatnya. Jadi kolektif untuk bisa menyelesaikan permasalah banjir,” tegasnya. ***















