BANTENRAYA.COM – Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Oom menyayangkan lamanya proses pengungkapan kasus pembegalan terhadap warga Baduy di Jakarta oleh polisi.
Lembaga adat Baduy bahkan mengancam akan mengabaikan kunjungan kepolisian ke wilayah adat Baduy. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaan.
“Tidak ada informasi bahwa pelakunya tertangkap. Lembaga adat mungkin mempertimbangkan akan mengabaikan kepolisian jika berkunjung ke Baduy karena kami kecewa,” kata Oom pada Minggu, 30 November 2025.
Oom juga mengungkapkan bahwa komunikasi Baduy dengan pihak kepolisian, baik dari Polres maupun Polsek di Jakarta Pusat, sangat minim. Ia bahkan menyebut hampir satu minggu terakhir ini tidak ada kabar perkembangan sama sekali.
“Sementara ini komunikasi jarang. Bahkan hampir seminggu ini tidak ada kabar lagi. Seolah-olah tidak ada tindak lanjut,” katanya.
Oom menilai kepolisian memiliki teknologi dan kemampuan untuk menelusuri pelaku lantaran pelaku begal turut merampas telepon genggam milik korban warga Baduy.
BACA JUGA : Buntut Kasus Pembegalan di Jakarta, Warga Baduy Diminta Berjualan Madu Berkelompok
“Polisi kan punya alat untuk mendeteksi komunikasi dari handphone. Harusnya bisa ditelusuri,” imbuhnya.
Sebelumnya diketahui, Repan (16) warga Kampung Baduy Dalam jadi korban pembegalan di Jakartanya pada Jumat, 26 Oktober 2025. Akibatnya, kondisi tangan Repan sempat terluka akibat sabetan senjata tajam. Selain itu, uang tunai sebesar Rp3 juta serta 10 botol madu jualannya ikut raib. (***)



















