BANTENRAYA.COM- Faturohman Al Azis merupakan mahasiswa asal Kecamatan Gunungsari yang sangat senang berbisnis buah pisang.
Faturohman Al Azis sudah memulai belajar usahanya sejak duduk di bangku SD bersama kakeknya, bahkan ia diajari cara menanam pisang yang baik dan benar.
Namun perjalanan Faturohman Al Azis sebagai penjual pisang sempat terhenti setelah ia masuk masa SMA. Bukan tanpa sebab, Fatur tak lagi berjualan pisang karena sekolahnya yang menyita waktu.
BACA JUGA: Ramadhan 2026 Mulai Tanggal Berapa? Cek Kalender Muhammadiyah dan SKB 3 Menteri
“Lalu saya sempat fakum karena masuk sekolah kebetulan full day, jadi tidak ada waktu untuk jualan. di lanjut saya jualan pisang waktu semester 8 sambil nyusun skripsi sambil menunggu wisuda,” ujarnya, Senin 17 November 2025.
Adapun pisang yang ia jual merupakan hasil dari para petani langsung yang ada di wilayahnya dan dari berbagai pengepul.
“Lokasi usaha saya masih rumahan, saya dapatkan pisang ini dari berbagai petani dan para pengepul,” tuturnya.
BACA JUGA: Media Sosial Bisa Jadi Pemicu Bullying, Dindikbud Kota Cilegon Minta Orang Tua Lakukan Pengawasan
Mahasiswa Universitas Primagraha ini mengatakan, dengan adanya program MBG sangat bernilai positif terhadap usaha pisang yang ia digelutinya.
“Alhamdulilah, sejak ada MBG dampak besarnya bagi petani pengusaha sangat positif. Petani sekarang tidak bingung mau jual kemana hasil kebunya, bahkan stok pisang sekarang hampir tidak memenuhi kebutuhan pasar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, walaupun tidak setiap hari melakukan pengiriman ke dapur-dapur MBG, namun adanya dapur MBG di wilayahnya bisa membuat omzetnya bertambah.
“Sejak adanya MBG keuntungan yang di dapat bisa Rp500 sampai Rp700 ribu. Tapi untuk modalnya bisa Rp6-Rp7 juta perhari tergantung jenis pisangnya,” katanya.
Dagangan Faturohman Al Azis Dijual Mulai dari Rp8.000
Fatur menuturkan, harga pisang yang dijualnya bervariatif mulai dari Rp8.000 sampai Rp17.000 tergantung jenis dan nama brand pisangnya.
“Alhamdulilah sehari bisa menjual sebanyak 200 kilogram pisang. Biasanya saya kirim pisang ke pasar dan kadang ke lapak buah langsung. Tapi sekarang bisa mengirim ke beberapa dapur MBG ketika mereka membutuhkan pisang,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, lebih memilih usaha penjualan pisang karena sangat mudah menghabiskan stok karena bisa disukai oleh masyarakat dari semua kalangan.
“Karena hampir semua masyarakat itu suka makan buah pisang, jadi penjualan buah pisang sangat mudah karena sangat familiar. Apalagi sekarang stok kita belum memenuhi kebutuhan pasar,” paparnya. ***
















