• Sabtu, 21 Mei 2022

Gus Baha Pernah Dianggap Sesat oleh Keluarganya Gara-Gara Hal Mengejutkan Ini..

- Selasa, 11 Januari 2022 | 07:55 WIB
Gus Baha mengungkapkan pernah dianggap sesat oleh keluarganya karena tidak mendidik anaknya menggunakan bahasa Jawa tinggi atau krama. (Instagram @ngajigusbaha   )
Gus Baha mengungkapkan pernah dianggap sesat oleh keluarganya karena tidak mendidik anaknya menggunakan bahasa Jawa tinggi atau krama. (Instagram @ngajigusbaha )

BANTENRAYA.COM - KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha, salah satu ulama kharismatik Indonesia, pernah dianggap sesat oleh lingkungan bahkan keluarganya sendiri.

Gus Baha dianggap sesat karena berpendapat berbeda dari arus kebanyakan.

Penyebab Gus Baha dianggap sesat karena tidak menggunakan bahasa Jawa tinggi atau krama kepada anaknya.

Baca Juga: Hasil Pertandingan FA Cup, Manchester United Tekuk Aston Villa 1-0 Tanpa Ronaldo, Dua Gol Dianulir

"Saya kalau pantas itu ya pakai bahasa krama ke anak. Anakku enggak perlu pakai bahasa kramalah, tapi ini kan dianggap sesat," kata Gus Baha dalam sebuah rekaman yang diunggah akun Pemburu Barokah di Facebook, sebagaimana dikutip Bantenraya.com, Selasa, 11 Januari 2022.

Gus Baha mengatakan, dia sengaja tidak mengajarkan hal-hal sulit dan memberatkan anak karena ingin membuat nyaman.

Menurutnya keluarga harus menjadi tempat yang aman dan nyaman agar anak mengidolakan  keluarga, sehingga keluarga tetap bisa menjaga agar anak memegang teguh kalimat tauhid la ilaha illalla.

Baca Juga: Heboh Video Ciuman, Zikry Daulay dan Ayu Aulia Didesak untuk Segera Menikah

Sebab ketika anak sudah bisa mengucapkan kalimat tauhid atau kalimat toyibah seperti Allahu akbar ini adalah sesuatu yang spesial.

Anak yang sudah suka salat atau mengaji harus didukung dengan memberikan apa saja yang mereka sukai.

Anak suka jajan beri jajan. Anak suka mainan biarkan bermain. Karena mereka belum terbebani hukum atau belum mukallaf.

Baca Juga: Daftar 103 Fintech Pinjol Legal berizin OJK, Selain itu Ilegal

Menyayangi anak juga diajarkan oleh para nabi terdahulu.

Nabi Ibrahim, misalnya, membiarkan anaknya Ismail bermain dengan kambing di Ka'bah padahal area itu adalah area suci.

Begitupula Nabi Muhammad membiarkan cucunya Hasan dan Husain bermain di rumah dengan binatang.

Baca Juga: Profil Pemeran Layangan Putus, Putri Marino dan Anya Geraldine Lengkap

Menurut Gus Baha, orang tua harus menghormati anak, bukan sebaliknya.

Sebab dalam kitab Mizan al Kubro disebutkan, "Termasuk tata krama para nabi adalah memuliakan anak-anak." ***

Editor: M Hilman Fikri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X