• Kamis, 30 Juni 2022

Cerpen Supadilah Iskandar: Monyet Solear Menyerbu Banten

- Rabu, 24 November 2021 | 10:45 WIB
Foto ilustrasi (Pixabay)
Foto ilustrasi (Pixabay)

“Siap, Pak! Saya berjanji tidak bakal berkerumun lagi,“ ujar si monyet, “Saya juga berjanji tidak akan membuat onar lagi.”

“Jadi sekarang, lebih baik kamu ceritakan unsur negatif yang menempel pada nama saya, dengan jujur dan apa adanya,” pinta Widya, tatapanya menusuk tajam ke mata monyet yang mungil kemerahan itu.

“Kalau saya sampaikan, saya khawatir Ibu akan terluka.”

“Nggak mungkin! Ayo, katakan terus terang.”

“Apa adanya?”

“Apa adanya.”

Untuk beberapa saat, si monyet berpikir keras hingga timbul garis-garis kerutan yang melintang pada dahinya. “Setelah dipikir-pikir, sebaiknya Ibu tak usah mendengarnya…”

“Sudah saya bilang nggak apa-apa, ayo katakan!”

“Oke, kalau begitu,” kata monyet. “Ibumu tidak menyayangimu. Bisa dibilang, dia nggak menyayangimu ketimbang anak-anak lainnya, bahkan sejak kamu lahir dari rahimnya sendiri. Saya tidak tahu kenapa, tapi memang begitu kenyataannya. Kakak perempuanmu juga dari dulu benci kepadamu. Sebagai wanita kelahiran Banten yang temperamental, Ibu Widya sengaja dikirim ke pesantren, hanya karena dia tak ingin melihat rupa wajahmu berkeliaran di bawah atap yang sama. Sebisa mungkin, dia ingin membuangmu sejauh-jauhnya. Sebenarnya, kalau boleh jujur, ayahmu bukanlah orang jahat, tapi dia bersikap dingin dan bukan tipe ayah yang diandalkan. Dia seorang pedagang yang pemarah dan temperamental juga, tetapi dia tidak cukup tegas untuk berdiri membelamu. Karena alasan-alasan ini, sedari kecil kamu tidak pernah memperoleh kasih sayang yang cukup. Saya pikir, mestinya kamu sudah punya firasat soal ini sejak lama, tapi kamu terlanjur sengaja memalingkan matamu dari kepahitan ini. Jiwamu melakukan penyangkalan dalam soal ini, begitu lamanya. Kamu juga telah mengunci seluruh kenyataan pahit ini di relung hatimu, serta tak pernah mau berterus-terang membuka apa adanya. Kamu selalu berusaha menekan perasaan negatif yang seketika muncul begitu saja. Seribu satu alasan klise yang selalu kamu persiapkan untuk pasang ancang-ancang guna menampik hal-hal semacam ini, juga sudah menjadi bagian dari watak dan kepribadianmu…”

“Cukup, cukup!” kata Bu Maya. Konselor itu merasa khawatir, sambil menatap wajah Widya dan membaca reaksinya.

Halaman:

Editor: Muhaemin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X