• Rabu, 20 Oktober 2021

Lestarikan Tradisi Muludan, Disparbud Cilegon Rutin Gelar Lomba Zikir dan Panjang Mulud Sebelum Pandemi Hadir

- Rabu, 21 Oktober 2020 | 18:52 WIB
Adv
Adv

CILEGON, BANTEN RAYA - Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Cilegon secara konsisten telah melakukan pembinaan dan pelestarian tradisi Muludan di Kota Cilegon.


Kegiatan yang kini terganjal pandemi Covid-19 tersebut, sejatinya dilakukan pada Oktober ini, dengan cara menggelar berbagai perlombaan untuk memeriahkan maulid nabi atau kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam balutan Festival Maulid, lomba yang digelar diantaranya zikir dan panjang Mulud.


Kepala Disparbud Cilegon Mahmudin menjelaskan, muludan adalah tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di daerah Cilegon. Tradisi muludan adalah kebiasaan yang diselenggarakan oleh masyarakat Cilegon setiap bulan Rabiul Awal.


“Hal yang pasti ada dan dilakukan masyarakat ketika Muludan adalah zikir dan arak-arakan panjang mulud. Ini adalah tradisi dan sudah menjadi seni budaya Islami yang kerap dilaksanakan secara meriah,” tuturnya.


Tradisi zikir mulud, lanjut Mahmudin, merupakan ritual yang dijalankan dengan balutan seni islami. Setiap grup atau Khafillah Zikir yang dibentuk di suatu wilayah menjadikan suasana muludan semakin ramai karena lantunan syair-syair atau pujian yang dilakukan para khafilah terhadap Nabi Muhammad SAW.




“Setiap kampung biasanya memiliki grup Khafillah Zikir yang diminta untuk mengisi acara Muludan di kampung lainnya. Ini menggambarkan adanya silaturahmi yang terjalin antar kampung. Biasanya yang diundang sedikitnya 1 hingga 2 grup. Dimana satu grup bisa beranggotakan sedikitnya 25 sampai 30 orang bahkan lebih,” jelasnya.


Mahmudin memaparkan, sejarah zikir mulud diperkirakan sudah populer sejak tahun 1927. Syair yang dibacakan berdasarkan kitab berjanzi. Zikir dilakukan dengan beberapa tahapan, mulai duduk, berdiri, kemudian duduk kembali hingga selesai.




“Biasanya saat duduk pertama yang dibaca adalah assala, alfasa, tanakal, walida, singkir, dzikrun, dan badat. Namun dalam posisi berdiri pezikir membacakan lagu hanya satu, yaitu ya Nabi salam. Kemudian dilanjutkan lagi dengan posisi duduk yang kedua, dengan membacakan syair yang terdiri dari ya Nur, Futur Kulwas, Ta'lam, Masmis, Wulidang, Talaubina Jalar nama, dan Habibun,” paparnya.


Dalam perkembangannya baik dalam posisi duduk maupun berdiri tidak semua syair tersebut dibacakan tapi disesuaikan dengan waktu yang tersedia apalagi jika zikir mulud ditampilkan dalam lomba atau kompetisi.

Halaman:

Editor: Redaksi

Terkini

45 Anggota DPRD Kota Serang Mulai Jalani Reses

Rabu, 25 Agustus 2021 | 14:24 WIB

Program KOTAKU Menjawab Permasalahan di Permukiman Kumuh

Selasa, 15 Desember 2020 | 15:44 WIB
X