Politik

Indonesia Kecam Serangan Militer Israel

News image

JAKARTA - Pemerintah Indonesia bereaksi keras atas aksi militer yang ...

Politik | Jumat, 11 Juli 2014 | Klik: 1773 | Komentar

Baca

MenPAN Tantang Presiden Baru

News image

JAKARTA - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) ...

Politik | Jumat, 4 Juli 2014 | Klik: 1623 | Komentar

Baca

Anggoro Divonis 5 Tahun, Kaban Terbukti Nyogok

News image

JAKARTA – Terdakwa perkara dugaan suap proyek pengadaan revitalisasi sistem ...

Politik | Kamis, 3 Juli 2014 | Klik: 1395 | Komentar

Baca


Hukum & Kriminal

TANGSEL- Prilaku bejat pria berinisial R (32) ini tak patut dicontoh. Pria yang berdomisili di Kampung Priangan Kelurahan Pakulonan, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ini tega mencabuli anak tirinya sendiri, ER (16).

Celakanya, pencabulan yang dilakukan terhadap ER bukan hanya dilakukan satu kali saja. R kerap kali menggagahi ER saat malam hari, atau saat sang Ibu sedang mencari nafkah di pabrik yang ada di kawasan Serpong Utara.

"Benar. Pencabulan pada anak tiri R terjadi pada malam hari, saat ibu dari ER sedang sibuk bekerja. Prilaku ini sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 2015 silam. Artinya sudah mencapai satu tahun," kata Kapolres Tangsel AKBP Ayi Supardan di Mapolres Tangsel, Selasa (2/8).

Modus yang dilancarkan ayah tiri bejat itu, menurut Ayi, yakni R memaksa korban untuk berhubungan seksual. Kebetulan, pelaku R dan korban ER kerap ditinggal hanya berdua saja di rumah. "Pelaku juga mengancam agar ER tidak bercerita apapun kepada ibunya," Kapolres menambahkan.

Lantaran tak tahan dengan kelakuan bejat ayah tirinya itu, akhirnya ER memberanikan diri bercerita kepada neneknya tentang perlakuan ayah tirinya itu. Tak berapa lama, pada Jumat (29/7), neneknya langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Tangsel."Kami langsung lakukan penyidikan terhadap laporan tersebut. Akhirnya kami menangkap R di kediamannya di Kampung Priangan," kata Kapolres.

Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Samian menambahkan, kondisi korban yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP) ini masih trauma. Kata dia, korban ER bakal mendapat pendampingan dari psikologi untuk mengembalikan mentalnya."Sedangkan untuk barang bukti, kami amankan berupa sprei berwarna hijau, celana pendek merah, kaos warna biru tua, baju tidur biru muda dan celana tidur berwarna biru muda," tandasnya.

Untuk mempertanggungjawabkan kelakuan bejatnya, pelaku R dikenakan Pasal 81 jo PAsal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuma 15 tahun penjara. (iwan)
SERANG - Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Serang menuntut pidana penjara terhadap kakek berinisial CM (51) selama Sembilan tahun. Ia dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pemerkosaan terhadap gadis bisu yang tidak lain adalah tetangganya hingga hamil.

“Kami tuntut dengan pidana penjara selama 9 tahun dikurangi selama terdakwa berada di dalam tahanan,” ujar JPU Bahtiar Hilmi saat ditemui usai persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (9/6/2016). JPU menjerat CM dengan dakwaan primair Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kami jerat dengan dakwaan primair. Adapun pertimbangan yang memberatkan perbuatan terdakwa telah merusak masa depan korban dan berbelit-belit. Sedangkan untuk meringankan terdakwa belum pernah dihukum. Selain pidana 9 tahun kami juga tuntut dengan denda Rp 60 juta subsidair enam bulan penjara,” katanya. Kasus pemerkosaan yang dilakukan CM ini terjadi pada awal Bulan Januari 2015 lalu.

Saat itu, pelaku merangsek masuk ke dalam rumah korban sebut saja Bunga. Sebelum masuk ke dalam rumah gadis berusia 15 tahun itu, pelaku sudah mengintainya. Ketika orang tua dan kakaknya pergi, pelaku langsung masuk ke dalam rumah.

Agar tidak ada yang curiga, pelaku berlagak bertamu ke rumah korban dan mengetuk pintu. Saat bertemu dengan korban, pelaku langsung menggiring gadis bisu itu ke dalam kamar dan membekap mulutnya. Tanpa basa basi, pelaku langsung memperkosa korban. Selang beberapa menit kemudian, YP kakak korban pulang ke rumah. Curiga, YP kemudian menanyakan alasan pelaku masuk ke dalam rumahnya.

Seakan tanpa bersalah, pelaku mengaku baru saja membetulkan kipas. Korban sempat bungkam saat ditanya YP di dalam kamar terkait bertamunya pelaku. Namun keesokan harinya, korban akhirnya memberanikan diri menceritakan dengan bahasa isyarat telah diperkosa oleh pelaku. Beberapa pekan dari pemerkosaan tersebut, korban ternyata positif hamil.

Berdasarkan pemeriksaan dokter RSUD dr Drajat Prawiranegara korban dinyatakan hamil dengan usia kandungan 15 minggu pada 15 April 2016 lalu. Kasus pemerkosaan tersebut kemudian dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Serang.

Selang beberapa hari dari laporan itu, pelaku akhirnya ditangkap. Berdasarkan pantauan Kabar Banten, sidang terhadap CM berlangsung tertutup. Pihak keluarga korban tampak terlihat memantau jalannya pesidangan.

Begitu juga dengan korban yang juga terlihat dengan perutnya yang membuncit. Menanggapi tuntutan JPU, pengacara CM, Isbanri menyatakan keberatan. Menurutnya tuntutan JPU terlalu tinggi padahal hubungan seksual tersebut tanpa ada paksaan.

“Kami ajukan pembelaan, menurut kami itu bukan pemerkosaan tapi suka sama suka,” katanya. Rencananya sidang diketuai oleh majelis hakim Emy Cahyani Widiastuti itu akan kembali digelar pada hari Kamis pekan depan. (marjuki)
SERANG - Kasus kejahatan seksual terhadap anak kembali terjadi di Kabupaten Serang. Kali ini kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa seorang balita asal Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang berinisial AL (3). Parahnya, pelaku pemerkosaan terhadap balita malang tersebut adalah tetangganya sendiri berinisial SS dan bekerja sebagai guru ngaji di sebuah pondok pesantren (ponpes).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kasus dugaan pemerkosaan tersebut terjadi pada Febuari 2016 lalu. Saat itu korban dibawa ke rumah pelaku yang saat itu kondisinya sedang sepi. Dengan modus hendak menyunat korban, pelaku kemudian melepas celana korban. Setelah itu, pelaku kemudian memasukan alat kelaminnya yang ia sebut dengan kata “sunat” kepada korban.

Usai melampiaskan nafsunya, pelaku yang diketahui sudah memiliki anak istri itu kemudian menyuruh balita itu pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, orang tua korban awalnya tidak mengetahui anaknya sudah diperkosa oleh tetangganya itu.

Pemerkosaan tersebut terungkap setelah korban mengeluh sakit saat buang air kecil pada malam harinya. Penasaran, ibu korban lantas membuka celana anaknya itu untuk mencari penyabab rasa sakit tersebut. Alangkah kagetnya ibu korban ketika mengetahui penyebab sakit tersebut diakibatkan oleh pendarahan di alat kelamin anaknya.

Merasa ada yang tidak beres, ibu korban kemudian menanyakan langsung kepada anaknya itu. Dengan polos, anaknya mengatakan bahwa SS telah “menyunatnya” dengan memasukan sesuatu ke alat kelaminnya.

Keyakinan telah terjadi pemerkosaan sang ibu semakin bertambah setelah anak pelaku keesokan harinya mengembalikan celana dalam anaknya yang tertinggal di rumah. Guna memastikan telah terjadi persetubuhan, orang tua korban kemudian membawa anaknya ke rumah sakit untuk diperiksa. Hasilnya, penyebab pendarahan tersebut diakibatkan oleh benda tumpul yang masuk dalam alat kelamin korban.
Berang dengan sikap pelaku, orang tua korban kemudian membuat laporan ke Unit Layanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Serang.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten Uut Lutfi membenarkan adanya laporan kasus dugaan pemerkosaan tersebut ke instansinya. Ia mengatakan akan melakukan pendampingan hukum dan moril bagi keluarga korban. “Kami dari LPA memberikan pendampingan hukum selain itu kami juga memberikan pendampingan lain berupa bantuan pemulihan kondisi psikologis ibu korban karena mengalami depresi,” ujar Uut, Rabu (1/6).

Kepada masyarakat, Uut meminta agar masyarakat tidak mencemooh musibah yang dialami keluarga korban. Sebagai bentuk kepedulian ia sudah mengarahkan agar masyarakat memberikan dukungan moril kepada keluarga korban. “Kami sudah datangi masyarakat dan kadesnya juga agar mereka jangan sampai dihakimi. Kami minta mereka memberikan dukungan moril agar memulihkan kondisi psikologis keluarga korban,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diterima dari penyidik, pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Kamis pekan lalu. Diharapkan pelaku kejahatan seksual terhadap anak ini diberikan hukuman yang seberat-beratnya. “Kami akan kawal hingga ke pengadilan. Saya harap dia (pelaku) dihukum berat-beratnya,” ujarnya.

Kanit UPPA Polres Serang Ipda Juwandi saat dikonfirmasi Kabar Banten membenarkan kasus dugaan pemerkosaan tersebut. Bahkan menindaklanjuti laporan kasus dugaan pemerkosaan tersebut penyidik sudah menetapkan terlapor sebagai tersangka. “Iya (benar laporan itu). Terlapor sudah ditetapkan sebagai tersangka, saat ini kami masih melakukan pemeriksaan,” ujar Juwandi singkat.(marjuki)
SERANG - Pimpinan sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kota Serang berinisial MAS (56) dituntut dengan pidana selama 7 tahun oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Serang. Tuntutan tersebut dijatuhkan setelah JPU menilai perbuatan MAS telah terbukti melakukan tindak pencabulan terhadap empat santriwatinya.

Selain dituntut dengan pidana penjara, JPU juga menuntut terdakwa dengan uang denda senilai Rp 100 juta subsidair enam bulan kurungan. “Dituntut dengan pidana tujuh tahun dan denda Rp 100 juta. perbuatan terdakwa dinilai telah terbukti melakukan tindak pencabulan terhadap empat orang santriwatinya,” ujar sumber Kabar Banten di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Serang, Senin (30/5/2016).

Pantauan Kabar Banten dalam sidang yang berlangsung tertutup tersebut diketaui oleh majelis hakim Ni Putu Sri Indayani, JPU Kejari Serang Sandra. Sementara terdakwa SAM didampingi penasihat hukumnya Santi. Oleh JPU, perbuatan SAM telah terbukti melanggar dakwaan primair Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak. Dalam pertimbangnnya, perbuatan SAM tidak memberikan suri tauladan sebagai tenaga pendidik, tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak, tidak mengakui perbuatannya, korbannya adalah anak dibawah umur dan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. “Terdakwa bersikap sopan di persidangan dan belum pernah dihukum itu sebagai

pertimbangan yang meringankan,” kata sumber tersebut. Dikonfirmasi wartawan terkait tuntutan tersebut, JPU Irma Sandra memilih tidak berkomentar. Sementara penasihat hukum SAM, Santi merasa keberatan dengan tuntutan jaksa karena dinilai tidak sesuai dengan fakta persidangan. “Kami sangat keberatan dengan tuntutan jaksa. Nanti kami akan tanggapi nota pembelaan (pledoi) dan jelaskan fakta persidangannya.

Untuk saat ini saya belum bisa berikan bocoran fakta persidangan yang meringankan klien kami, nanti pas pledoi pekan depan akan kami beberkan,” katanya. Kasus dugaan pencabulan ini terungkap setelah keempat santriwatinya berinisial MH (17), LH (17), SA (15) dan JT (16) membuat laporan di Unit Layanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Serang Rabu (17/02/2016) lalu. Mereka mengaku telah beberapa

mendapat perlakuan cabul yang dilakukan oleh SAM dengan modus meminta dipijit saat kondisi ponpes sepi. Saat dipijit itulah SAM diduga melakukan perbuatan tidak terpuji dengan memegang payudara, memeluk, mencium, memegang kelamin dan bahkan paha santriwatinya.

Salah satu korban berinsial JT yang gerah perlakuan SAM itu kemudian menceritakannya kepada salah satu kerabat korban lainnya berinisial DN. Laporan dari JT tersebut ternyata dilaporkan DN kepada orang tuanya. Setelah berkomunikasi dengan tiga korban lainnya pihak keluarga akhirnya sepakat untuk mempolisikan SAM. (marjuki)
SERANG - Seorang oknum guru salah satu SMK di Kota Serang berinisial NS diduga telah memperkosa salah satu siswinya pada Jumat (21/5) malam lalu. Korban sebut saja Melati (16), telah melaporkan kasus ini ke Polres Serang. Mirisnya, perbuatan tak senonoh itu dilakukan NS di ruang OSIS sekolah.

Informasi yang diperoleh, peristiwa dugaan pencabulan yang dialami Melati terjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, Melati mengikuti kegiatan pramuka yang diadakan di sekolah.

Malam itu, Melati yang sedang melaksanakan kegiatan pramuka itu diajak NS masuk ke ruang OSIS. Karena yang mengajaknya adalah gurunya, Melati mengaku tak merasa curiga. Setelah berada di dalam ruang OSIS, NS memaksa Melati untuk membukan pakaian.

Melati sempat menolaknya dan berniat keluar dari ruangan, namun pintu ruang OSIS tersebut terkunci. NS yang tak kuat menahan birahi, mencekik sambil mengancam Melati jika tidak menuruti ajakannya. Karena ancaman itu, Melati akhirnya tak berdaya dijadikan nafsu bejat gurunya itu.

Usai melampiaskan nafsu bejadnya itu, NS memfoto anak didiknya itu yang tanpa busana dengan menggunakan handphone miliknya. Ia mengancam akan mengeluarkan dari sekolah dan menyebarkan foto bugilnya jika buka mulut.

Meski ada ancaman, Melati tetap mengadukan aib yang menimpanya kepada orangtuanya. Orangtua Melati akhirnya melaporkan kasus itu ke Mapolres Serang.Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Serang Iptu Juwandi, Senin (23/5), membenarkan adanya laporan asusila yang dilakukan oknum guru terhadap anak didiknya tersebut. "Iya, sedang kita selidiki," tegasnya. (marjuki)

Komentar Terakhir