Crime News

Pesta Narkoba, 3 Pemuda Dibekuk

News image

RANGKASBITUNG - Tiga pemuda yang pesta narkoba dibekuk petugas Satuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 3 April 2014 | Klik: 256 | Komentar

Baca

Pelajar Terlibat Pencurian Motor

News image

PANDEGLANG – Satreskrim Polres Pandeglang menangkap enam tersangka anggota kawanan sp...

Hukum & Kriminal | Selasa, 25 Maret 2014 | Klik: 417 | Komentar

Baca

MAU TIPU POLISI, POLISI GADUNGAN DIBEKUK POLISI

News image

TANGERANG – Berniat ingin menipu anggota kepolisian Polrestro Tangerang Kabupaten, Ru...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Maret 2014 | Klik: 551 | Komentar

Baca


Narkoba Mulai Masuk Baduy

SERANG - Para tetua masyarakat Baduy kompak meminta agar Pemprov Banten dapat mengantisipasi terhadap penyebarluasan narkoba di Banten. Pasalnya, suku Baduy pernah didatangi pengunjung asing yang membawa barang haram tersebut dan langsung ditangkap. Menurut mereka, bahaya narkoba terhadap generasi muda khususnya suku Baduy terhadap rusaknya masa depan negeri harus diberantas sampai tuntas dari Pemprov Banten dan aparat hukum yang berwenang.

Salah satu tetua suku Baduy Jaro Dainah ketika ditemui usai acara seba gede di teras Pendopo Gubernur, Jalan KH Brigjen Syam'un Nomor 5, Kota Serang pada Sabtu (18/5) malam kemarin menegaskan bahwa dalam sukunya diharamkan untuk dimasuki barang haram tersebut. Akan tetapi, pihaknya khawatir dengan sejumlah kasus narkoba yang menurut kabar banyak terjadi di Provinsi Banten. Ia meminta kepada Pemprov Banten dan aparat kepolisian untuk meningkatkan pengamanan dan pengawasan terhadap penyebarluasan narkoba di Banten, dan tidak mencemari suku Baduy.

“Pokoknya, tidak boleh ada narkoba di Banten, khususnya di suku Baduy. Karena, dulu pernah ada orang asing yang ke Baduy bawa narkoba dan langsung ditangkap. Sejak saat itu, warga Baduy benar-benar waspada,” tegas Dainah.

Menurut Dainah, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada warga Baduy agar tidak menyentuh apalagi mengonsumsi obat-obatan terlarang itu. Dainah telah meminta warga agar mencermati dan mewaspadai pemberian-pemberian mencurigakan dari orang asing yang mengunjungi Baduy. Karena, Dainah meyakini bahwa pengaruh narkoba dapat merusak seluruh elemen penting negeri terutama generasi-generasi muda. Apalagi, saat ini, kalangan anak-anak dan masyarakat Baduy pada umumnya mulai mempelajari banyak ilmu pengetahuan dan bahasa.  “Kalau diracuni dengan narkoba, generasi suku Baduy ini akan rusak dan mungkin merusak kepada yang lainnya,” terangnya.

Tetua masyarakat Baduy Dalam Ayah Mursid mengatakan, pihaknya juga meminta kepada Pemprov Banten agar dapat menjaga kelestarian gunung dan hutan yang ada di Provinsi Banten dari tindakan penebangan liar. Ia mengatakan, tugas menjaga kelestarian hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab suku Baduy. Menurutnya, dampak penebangan liar atau yang lebih dikenal dengan pembalakan liar (illegal logging) akan membahayakan seluruh masyarakat se-Provinsi Banten hingga menjadi ancaman bagi para keturunannya. Karena, kerusakan hutan akan mengakibatkan kepunahan-kepunahan sumber kehidupan.

“Hutan dan gunung itu salah satu sumber kehidupan manusia. Kalau dirusak dan hancur, bisa menimbulkan kerusakan alam dan bencana yang tidak diinginkan. Supaya itu terjaga dan lestari, pemerintah dan aparat hukum harus menghukum seberat-beratnya orang-orang yang merusak kelestarian hutan dan gunung,” tutur Mursid.

Mursid menjelaskan, seba yang dilakukan tahun ini dinamakan seba besar atau disebut suku Baduy sebagai seba gede. Sedangkan, pada tahun lalu, seba yang dilakukan warga Baduy adalah seba kecil atau seba leutik. Perbedaanya, dalam seba gede, warga Baduy tidak hanya menyerahkan hasil-hasil bumi kepada pemerintah, melainkan peralatan-peralatan dapur atau alat memasak. Sedangkan seba leutik, warga baduy hanya menyerahkan hasil bumi saja. Perayaan seba gede dilakukan secara rutin sesuai adat selama 2 tahun sekali.  “Seba gede itu maksudnya adalah menunjukkan kepada pemerintah bahwa kami tidak hanya mampu memberikan hasil bumi, tapi juga peralatan memasaknya. Dan itu sudah menjadi adat suku Baduy secara turun temurun,” jelasnya.

Sementara, Gubernur Rt Atut Chosiyah mengatakan, beberapa pesan yang disampaikan warga Baduy dalam seba gede kali ini di antaranya adalah meminta pemerintah agar memelihara hutan dan gunung yang ada di wilayah Banten. Menurut Atut, secara umum, gunung dan hutan di Banten saat ini dalam kondisi baik. Akan tetapi, pihaknya tidak memungkiri bahwa ada pembalakan liar di wilayah Ujung Kulon yang harus menjadi antisipasi dan kewaspadaan bersama.

Oleh karena itu, pihaknya meminta apabila ada masyarakat yang melihat pelanggaran tersebut, dapat melaporkan kepada pihak yang berwajib.  “Kami juga terus berupaya optimal akan kekhawatiran suku Baduy terhadap penyebarluasan narkoba. Jangan sampai, narkoba ini masuk dan menyebar ke Banten apalagi ke suku Baduy,” tegas Atut

Atut juga mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima, sedikitnya 4.000 warga Baduy sudah memiliki kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E). Meskipun warga Baduy meminta agar kolom agama itu dikosongkan, namun Atut menganggap hal itu merupakan sebuah kemajuan. Karena, beberapa warga Baduy artinya telah terdata sebagai warga negara Indonesia dan warga Banten. Kedepan, pihaknya meminta kepada Jaro Dainah selaku perantara antara suku Baduy dengan pemerintah untuk terus mengajak warga Baduy mendaftarkan diri agar mendapatkan KTP-E.  “Seluruh warga Baduy yang berusia 17 tahun keatas untuk bisa mendaftarkan diri agar mendapatkan identitas KTP-E. Karena, KTP-E ini kan penting, disamping sebagai identitas, juga berlaku menjadi data kematian dan lain-lain,” jelasnya.

Dalam seba tahun ini, sedikitnya 5 turis asing asal Amerika dan Australia terlihat hadir dalam acara yang digelar sekitar pukul 19.20 WIB tersebut. Di antaranya adalah bernama Rachel, Judith, Russel, dan Douglas dari Amerika, serta July dari Austrialia. Rachel, salah satu turis mengatakan, dirinya dan keempat rekan lainnya baru kali ini melihat ritual seba Baduy yang ternyata merupakan budaya khas di Banten. Menurutnya, suku Baduy memiliki ciri khas yang cukup unik dan kuat dibandingkan budaya-budaya lainnya di Indonesia. Kesempatan untuk bertemu suku Baduy ini telah dinantinya sejak lama. Sehingga, ketika ada informasi akan dilakukan ritual seba Baduy, ia bersama suaminya Russel antusias dan langsung menuju Banten.

“Tadinya, saya tahu Baduy hanya baca dari buku dan saya penasaran ingin melihat langsung. Saya benar-benar senang bisa mendapatkan kesempatan berharga ini. Karena di Amerika tidak ada yang seperti ini. Budaya-budaya seperti ini membuat saya semakin cinta Indonesia,” ujar Rachel yang telah menetap di Indonesia sejak setahun lalu. (ibah)  

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir