Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 66 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 50 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 79 | Komentar

Baca


Banjir di Cilegon Makin Parah


CILEGON -
Banjir di Kota Cilegon makin tahun makin parah. Sabtu (10/2), ratusan rumah di sejumlah kecamatan terendam banjir sampai dada orang dewasa. Jalan Anyer-Ciwandan lumpuh selama 11 jam karena terendam air sampai pinggang dan tidak bisa dilalui kendaraan. Kemacetan pun tak terelakan. Banjir juga melebar sampai ke halaman Kantor Walikota Cilegon, kantor DPRD, dan merendam Taman Layak Anak yang ada di samping DPRD.

Banjir paling parah terjadi di Lingkungan Ramanuju Baru, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil. Banjir mencapai dua meter menggenangi permukiman warga di RT 01 RW 04, Lingkungan Ramanuju Baru. Warga terpaksa diungsikan ke seberang rel kereta. Bahkan sejumlah ibu-ibu menangis histeris lantaran barang rumah tangga dan elektronik tidak bisa diselamatkan.

Selain Kecamatan Citangkil, banjir juga merendam Lingkungan Rokal, dan Lingkungan Sawah, Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang; Lingkungan Pintu Air, dan Lingkungan Kebanjiran, Kelurahan Kubangsari, Kecamatan Ciwandan.

“Ini adalah banjir terparah sejak saya tinggal di sini, sejak belasan tahun lalu. Itu sungai, di samping rumah saya meluap. Tapi, mungkin juga karena resapan air yang berkurang. Terakhir banjir itu dua tahun lalu tidak sampai selutut, sekarang seleher,” kata Duriah (48), warga RT05/4 Lingkungan Ramanuju, Kelurahan Citangkil.

Sebelumnya, lanjut dia, banjir sempat merendam rumahnya sekitar dua tahun “Ini tingginya hampir seatap rumah saya. Anak kecil, dan orang tua juga pada dievakuasi sama warga dan Tim SAR (search and resque). Kita juga masih takut terjadi seperti ini lagi,” kata Duriah.

Yedi Supriadi, salah seorang warga Lingkungan Ramanuju Baru yang menjadi korban banjir mengeluhkan kondisi saluran air di lingkungannya. Dulu, kata dia, gorong-gorong cukup dan mempu menampung air meski hujan deras. Namun kini, banyaknya pembangunan industri dan perumahan membuat drainase menjadi sempit. “Ya mau bagaimana lagi, orang sudah seperti ini. Kami mau melawan juga susah,” keluhnya.

Alfian Nurrohman, warga Ramanuju lain mengaku air mulai datang setelah subuh setelah sejak pukul 03.00 WIB hujan deras terus terusan terjadi. “Banyak barang warga yang tak sempat diselamatkan,” katanya.

Muhajir, warga Lingkungan Kranggot Bedeng, Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang, mengatakan, banjir yang sering terjadi di lingkungannya karena luapan aliran sungai. Rumah warga yang ada di lingkungan tersebut sejajar dengan aliran sungai. “Kami mah sudah sering kalau banjir, karena badan rumah sejajar dengan aliran sungai.

Sungai meluap saja, sudah banjir terjadi,” ujarnya. Selain itu, banjir juga dikarenakan banyaknya sampah yang menumpuk kiriman dari Cibeber. “Kalau warga sekitar jarang membuang sampah pada aliran sungai itu. Sampah itu kadang mampet di jembatan sehingga air tidak lancar. Lingkungan kami jarang membuang sampah dia liran kali,kalau ada sampah rumah tangga kami langsung buang itu ke penampungan yang sudah disediakan,” ucapnya.

Kepala Seksi (Kasi) Tanggap Darurat Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon Ahmad Mafruh mengatakan, proses evakuasi warga di Lingkungan Ramanuju cukup sulit. Pasalnya, pemukiman sempit ditambah banyak sampah yang terbawa arus. Selain warga, pihaknya juga mengevakuasi hewan peliharaan seperti ayam, kucing, dan anjing. “Ada dua lansia yang digendong, karena memang tingginya banjir. Kalau yang bayi kita evakuasi pakai bak,” ucapnya.

Kata Mafruh, banjir di beberapa sungai yang ada di Cilegon disebabkan oleh curah hujan tinggi, dan kiriman dari hulu sungai yang berada di Mancak, Kabupaten Serang. Setelah dilihat, memang beberapa  alirang sungai mengalami penyempitan dan banyak sampah. “Yang terendam ada, pemukiman, jalan, dan lahan,” ujarnya.

Pihaknya juga dibantu Tim SAR dan BPBD Provinsi Banten. “Dari BPBD Banten juga ada tujuh orang yang terjun. Bantuan sudah mengalir, baik dari BPBD Cilegon, Dinsos Cilegon, PMI, dan unsur masyarakat. Bantuan ada pakaian layak pakai dan makanan kalengan,” ungkapnya.

Mafruh menambahkan, saat ini pihaknya juga terus siaga mengantisipasi banjir susulan. “Kita stok makanan kaleng dan mie instan juga siap. Tapi, berharapnya tidak ada banjir lagi. daerah yang terkena banjir tersebut untuk pemukiman memang langganan banjir. Hanya saja, untuk jalan seperti depan Pemkot Cilegon sampai ke Kantor Pemkot Cilegon itu baru terkena saat ini,” ucapnya.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cilegon Ridwan mengakui sistem drainase di beberapa aliran sungai di Kota Cilegon masih kurang maksimal dalam menyerap air. Ia mengatakan, penanganan banjir perlu penanganan dari berbagai stakeholder seperti Pemerintah Provinsi Banten dan pemerintah pusat. “Sungai di Cilegon hulunya itu di Mancak, jadi juga harus ada penanganan juga dari hulu untuk resapan airnya. Begitu juga untuk drainase di jalan protokol, kita koordinasi dengan pemerintah pusat saat ini tidak mudah. Itu jalan kebanyakan milik pemerintah pusat sama provinsi,” ucapnya.

Meski demikian, Ridwan mengaku, Pemkot Cilegon setiap tahun juga melakukan normalisasi sungai dan gorong-gorong. Tahun ini, Pemkot Cilegon akan menambah tandon air di sekitar aliran sungai yang menjadi titik rawan banjir. “Untuk pembangunan tujuh tandon itu lebih dari Rp 1 miliar. Saat ini sudah ada empat tandon di sekitar kota,” urainya.

Kereta Api Terganggu
Kepala Stasiun Krenceng Nurdiansyah mengatakan, banjir di Cilegon mengakibatkan perjalanan KA terganggu. Perjalanan KA Lokal Rangkasbitung-Merak terganggu satu trip. “Kereta yang seharusnya sampai Merak pagi sekitar jam 09.00 WIB, itu tertahan di Stasiun Cilegon ada sekitar satu jam karena banjir. Tapi, setelah itu bisa lewat lagi dengan kecepatan rendah karena di sekitar bantaran rel juga jadi posko bencana di Lingkungan Ramanuju,” ujarnya. (gillang/rbnn)



Beri komentar


Security code
Refresh