Vera Bidik Pemula, Syafrudin Andalkan Figur


SERANG - Pengamat politik dari Untirta Gandung Ismanto mengatakan, secara umum kekuatan politik masing-masing paslon belum terpetakan. Namun dari latar belakang dan insfrastruktur politik peta kekuatan bisa diprediksi.

Paslon Vera-Nurhasan misalnya, mereka diyakini akan memanfaatkan struktur baik formal maupun informal. Hal itu akan dilakukan untuk menutupi kelemahan pribadi yang dimiliki Vera yang tidak memiliki pengalaman cukup di berbagai struktur sosial, kemasyarakatan, politik dan pemerintahan.

“Pasti dia akan memanfaatkan struktur-struktur yang dimiliki jejaring atau mesin politiknya. Terutama mesin politik Golkar yang selama ini dikuasai oleh keluarganya. Termasuk struktur formal maupun informal yang melekat atau tergantung atau berhubungan,” ujarnya.

Mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Banten itu menuturkan, dengan kondisi tersebut segmentasi pemilih yang akan disasar adalah para pemuda. Mereka dengan struktur yang dimilikinya akan mencoba menarik minat pemuda yang belum menentukan pilihan.

“Saya kira struktur konvensional itu yang dapat dimainkan oleh mereka. Sehingga yang diperebutkan mereka adalah segmen massa mengambang, misalnya sejumlah federasi olahraga yang identik dengan anak-anak muda. Pasti akan digarap sedemikian rupa dengan berbagai event untuk menarik minat anak muda. Masyarakat tradisional saya kira masih akan menggunakan pola yang sama,” katanya.

Sedangkan untuk paslon Syafrudin-Subadri, dia menilai mereka akan memanfaatkan kekuatan ketokohannya. Pola itu yang akan digunakan untuk menyerang infrastruktur politik yang dimiliki paslon Vera-Nurhasan.

"Syafrudin-Subadri meski secara empiris didukung dengan koalisi yang lebih sedikit tapi basis massanya cukup teruji. Kalau pun head to head, enggak mudah juga buat Vera meski di atas kertas dia bisa menang dengan mudah,” ungkapnya.

Ketokohan paslon Syafrudin-Subadri menjadi ancaman nyata bagi Vera-Nurhasan. Sebab, pada dasarnya pilkada bukan hanya menguji kekuatan partai tapi juga kekuatan figur atau tokoh. “Kekuatan figur Syafrudin-Subadri itu saya kira cukup mampu lah menyangi kekuatan figur Vera dan Nurhasan.

Kelebihan Vera-Nurhasan saya kira hanya terletak pada infrastruktur politik yang lebih dikuasai oleh mereka. Kelebihan Syafrudin-Subadri lebih terletak pada figur, ketokohan dan dukungan tokoh masyarakat,” tuturnya.

Sedangkan untuk paslon perseorangan memiliki tugas yang sangat berat, karena pengalaman pada pilkada sebelum-sebelumnya, mereka tidak bisa berbuat banyak. Namun untuk paslon perseorangan saat ini, Gandung meyakini mereka bisa menjadi kejutan. Prediksi itu didasari dari paslon Samsul-Rohman diakuinya memiliki kualifikasi yang mumpuni.

Secara isu dan program mampu menyaingi konten-konten yang ditawarkan 2 paslon dari parpol. Kemudian dari segi intelektual dan pengalaman juga lebih teruji. “Mereka akan mengadu dan menguji visibilitas visi misi 2 paslon yang lain.

Kalau bisa dimanfaatkan, saya kira mereka memiliki posisi untuk menarik segmen yang kritis dan rasional. Masyarakat kelas menengah ke atas yang lebih condong kepada isu atau program atau konten kampanye ketimbang hal-hal yang sifatnya pragmatis,” katanya. (dewa)