Crime News

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 600 | Komentar

Baca

Pembuang Bayi Itu Pelayan Kafe

News image

PASARKEMIS - Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan yang ari-arinya masih ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 412 | Komentar

Baca

Puluhan Anak di Pandeglang Diduga Disodomi

News image

PANDEGLANG – Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 24 Maret 2017 | Klik: 518 | Komentar

Baca


Berkuasa, Tapi Dianggap Sebelah Mata


SERANG
– Kehadiran perempuan di dunia politik masih dianggap tabu. Selain belum hilangnya anggapan perempuan tak layak untuk memimpin, pola pikir itu juga terbangun karena kaum hawa dianggap belum bisa bersaingan dengan politikus laki-laki baik secara fisik maupun mental.

Hal tersebut terungkap dalam Seminar Hari Kartini di Aula B Kampus II UIN Sultan Maulana Hasanudin, di Palima, Kota Serang, Kamis (20/4).Anggota DPRD Provinsi Banten Encop Sofia yang hadir sebagai pembicara mengatakan, meski negara telah memberi jalan bagi perempuan masuk ke dunia politik namun nyatanya masih ada kendala-kendala yang dihadapi kaum hawa. “Perempuan masih dianggap tabu di dunia politik khususnya legislatif. Negera telah menetapkan jatah kaum hawa di parlemen tapi tetap ada kendala-kendala yang harus dihadapi,” ujarnya.

Anggota legislatif Provinsi Banten dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Serang itu menuturkan, adapun kendala yang dihadapi adalah pola pikir masyarakat terhadap seorang politikus perempuan. Mereka masih saja menganggap perempuan tidak boleh memimpin dan sejumlah aturan budaya yang harus dipatuhi.

“Perempuan tidak bisa, tidak boleh jadi pemimpin. Kemudian perempuan tidak boleh pulang malam sehingga ideologi seperti itu membuat perempuan yang kerja di politik dan memimpin dianggap aneh. Kita tahu bersama kalau di politik itu tak kenal waktu,” katanya.

Alasan lain politikus perempuan masih tabu dikarenakan politik masih dianggap sebagai panggung adu kuat yang tentunya ungkapan tersebut sangat melekat pada sosok laki-laki. “Siapa yang kuat itu yang menang, seolah-olah yang kuat, yang punya modal besar atau memiliki keturunan yang mengguntungkan layak untuk berkiprah di dunia politik. Perempuan baik secara fisik dan mental masih dianggap kalah dari laki-laki,” ungkapnya.

Senada diungkapkan oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, Muflikhah. Menurutnya, anggapan perempuan yang masuk dunia politik masih tabu terlihat dari perolehan kursi DPRD Banten belum merata. “Dari kuantitas saja masih kurang, dari 85 kursi di DPRD Banten anggota legislatif perempuan hanya ada 16. Kepala daerah juga dari delapan daerah empat diantaranya dipimpin oleh perempuan yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kota Tangsel. Itu belum cukup, itu hanya kuantitas saja,” tuturnya.      

Selanjutnya, politikus perempuan belum bisa bersaing dengan politikus laki-laki dari sisi pengetahuan politik dan kemampuan berbicara di depan publik. Menurutnya, kaum hawa memang harus lebih mengasah lagi kemampuannya dan menghilangkan anggapan bahwa kursi legislatif yang diraihnya merupakan sebuah hadiah.

“Untuk bersaing dengan (politikus) laki-laki, ya tahu sendiri lah, perempuan harus mengasah lagi kemampuannya. Kedudukan yang sudah didapat harus dikelola dengan manajemen yang handal, keberadaan perempuan di legislatif merupakan tantangan sekaligus peluang, jangan dianggap sebagai hadiah,” pungkasnya. (mg-dewa)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir