Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 34 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 42 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 69 | Komentar

Baca


Media Sosial Bukan Produk Jurnalistik


SERANG
– Media sosial berbeda dengan produk jurnalistik, dan media sosial bukan produk jurnaslitik. Karena tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hal tersebut disampaikan Ratna Komala, Ketua Komisi Penelitian Dewan Pers, saat menjadi pembicara dalam Masa Orientasi SiGMA (MOS) yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA, UIN SMH Banten.

Ratna menjelaskan, media sosial dengan produk jurnalistik tidak sama, karena media sosial tidak mengikuti aturan atau terlampau bebas. Media sosial juga tidak memiliki susunan redaksi, sehingga tidak ada yang mengontrol, mengedit dan bertanggung jawab.

“Sementara prodak jurnalistik memiliki struktural redaksi. Contohnya, hasil karya jurnaslitik pers kampus, memiliki pimpinan redaksi, editor, dan wartawan. Jika ada masalah, pimpinan redaksilah yang bertanggung jawab,” kata Ratna, Kamis (26/1).

Dalam kesempatan itu, Ratna mengaku, Dewan Pers tidak bisa melindungi pers kampus, karena pers kampus tidak termasuk dalam naungan Dewan Pers, dan pers kampus hanya sebagai lembaga kegiatan belajar mengajar.

“Kampus punya otoritas sendiri, kalau ada kasus mungkin Dewan Pers sebatas memberikan pembinaan. Baik kepada rektor, jajaran dosen, maupun kepada pers mahasiswa. Karena pers kampus bukan pers yang umum yang langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakatnya terbatas yaitu masyarakat kampus,” ungkap Ratna.

Sementara itu, Agung Ketua Pelaksana MOS SiGMA mengaku, materi yang disampaikan Dewan pers memberikan nilai tambah bagi para peserta dan pengurus SiGMA. Tidak hanya itu, peserta pun sangat antusias menerima materi tersebut.“Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya peserta yang bertanya dalam sesi tanya jawab,” kata Agung. (satibi)


Beri komentar


Security code
Refresh