Crime News

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 585 | Komentar

Baca

Pembuang Bayi Itu Pelayan Kafe

News image

PASARKEMIS - Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan yang ari-arinya masih ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 399 | Komentar

Baca

Puluhan Anak di Pandeglang Diduga Disodomi

News image

PANDEGLANG – Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 24 Maret 2017 | Klik: 506 | Komentar

Baca


Ritel Modern Pengaruhi Warung


TANGSEL
- Sejumlah pedagang tradisional terus merasakan dampak menjamurnya minimarket atau toko modern di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Omzet pedagang tradisional, seperti warung kelontong terus merosot seiring ekspansi toko modern ke pedalaman perkampungan.

Sanusi, salah seorang pedagang kelontong di Pasar Serpong mengaku omzet usahanya terus turun sejak awal 2017 silam. Pelanggan tetapnya, diakui Sanusi satu per satu mulai meninggalkan warungnya dan lebih memilih berbelanja di warung modern alias minimarket.

Banyaknya pelanggan yang beralih, diakui Sanusi, merupakan imbas dari lebih murah dan nyamannya berbelanja di minimarket. Ia beralasan, kenapa harus menjual lebih mahal dibandingkan minimarket, lantaran harga dari pemasok juga sudah lumayan tinggi. "Ya, harga jual saya menyesuaikan," katanya ditemui di Serpong.

Ia juga bilang kalau tokonya tidak bisa melawan harga promo di minimarket yang notabene dikelola secara profesional dan memiliki jaringan luas. Ia menyontohkan, jika harga minyak dan gula di minimarket bisa jauh lebih murah dibandingkan di toko-toko tradisional. "Di minimarket, minyak bisa Rp 13 ribu per liter, gula Rp 14 ribu per kilo. Agak berat," katanya.

Menanggapi itu, Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel, Rohidin mengaku tak bisa berbuat banyak. Hanya saja, Pemkot Tangsel sudah sejak beberapa tahun silam sudah memberlakukan moratorium atau penyetopan izin minimarket baru.

"Seluruh 54 kelurahan/desa di tujuh kecamatan diinstruksikan bisa memperhatikan persoalan minimarket. Setiap camat dan lurah juga tidak diperkenankan untuk menerbitkan rekomendasi perizinan SKDU (Surat Keterangan Domisili Usaha), khususnya untuk bidang usaha minimarket," tandasnya.

Selama kurun waktu tertentu, lanjutnya, Disperindag Kota Tangsel ingin menginventarisir pertumbuhan minimarket. Melalui program diatas nantinya dapat diketahui titik lokasi mana saja yang tidak mempunyai izin resmi. "SKDU baru tidak boleh diterbitkan, kalau yang perpanjangan boleh," jelasnya.

Rohidin mengaku ada regulasi yang mengatur soal minimarket di Kota Tangsel, yakni Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perizinan dan Pendaftaran Usaha Perindustrian serta Perdagangan. Di regulasi itu diatur tentang zonasi sebaran minimarket. Kemudian dalam Peraturan Walikota (Perwal)  Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah.

"Kebijakan ada di kelurahan, selama ini bikin SKDU berawal dari sana. Di kelurahan biar mengetahui, dan ada batas kemampuan, kalau Indag bisa mengeksekusi (penertiban) pasti kami laksanakan," tandasnya. (iwan)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir