Crime News

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 362 | Komentar

Baca

Pembuang Bayi Itu Pelayan Kafe

News image

PASARKEMIS - Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan yang ari-arinya masih ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 273 | Komentar

Baca

Puluhan Anak di Pandeglang Diduga Disodomi

News image

PANDEGLANG – Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 24 Maret 2017 | Klik: 349 | Komentar

Baca


Ajak Rekan Seprofesi Lamanya, Malah Dibentak-bentak


KOTA SERANG
- Anita memang sudah menyatakan insyaf dari dunia malam. Saat ini, mantan pekerja di sebuah tempat hiburan malam di Kota Serang ini sedang menata kehidupan barunya dengan membuka warung di rumahnya dari bantuan modal dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang dan Gerakan Pengawal Serang Madani (GPSM).

Menggunakan jilbab warna coklat dipadukan dengan baju terusan warna ungu, Anita melayani setiap tamu yang datang ke rumahnya di Komplek Lebak Indah, Kelurahan Kaligandu, Kecamatan Serang. Maklum, pascaterkena razia saat 'manggung' di salah satu tempat hiburan di Kecamatan Cipocok, kediaman tak pernah sepi dari kunjungan petugas Dinsos dan GPSM untuk jasa konseling.

Sesekali tangannya menunjuk ke arah kamar tidur. Dia ingin menunjukan bahwa bantuan sembako yang diterimanya masih ada. “Di kamar sembakonya, belum saya apa-apa. Sekarang saya masih jualan minuman berbagai rasa untuk anak-anak saja dulu,” ujarnya sambil tersenyum.

Cukup sibuk memang melayani para tamu silih berganti berdatangan. Tapi saat berbincang dengan Banten Raya wanita berkulit putih itu ternyata mengaku tak merasa lelah dan bahkan selalu menyempatkan sedikit waktu untuk menghubungi teman-teman seprofesinya dulu sebagai PL tempat hiburan.

Bukan untuk menanyakan lowongan kerja sebagai PL, melainkan sebaliknya. Anita justru ingin mengajak mereka untuk mengikuti jejaknya, berhenti dari kegiatan dunia malam. Beragam tanggapan yang didapatnya, mulai dari menolak secara halus hingga kata-kata dengan nada tinggi. “Saya telepon teman-teman tapi malah ada yang bentak-bentak saya. Saya nggak bisa paksa tapi saya sudah mengingatkannya,” katanya.

Alasan penolakan untuk berhenti jadi PL beragam tapi sebagian besar karena masalah ekonomi. Terdesak masalah ekonomi dikarenakan penghasilan yang suami dianggap tidak mencukup untuk menutupi biaya hidup. “Teman-teman PL di tempat hiburan tempat saya bekerja itu sampai puluhan (jumlahnya). Mereka rata-rata sudah berkeluarga, ada yang sudah punya anak empat dan lima. Ada yang suaminya pengangguran sehingga mau tak mau harus menyanyi,” ungkapnya.

Bukannya mereka tak mau berhenti dari profesinya itu tapi ketiadaan modal dan ketakutan tak menghasilkan uang dalam jangka pendek menjadi alasannya. “Pasti bilangnya begitu, kalau berhenti anak-anaknya mau makan apa? Kalau usaha modal dari mana? Kalau usahanya gagal bagaimana?” paparnya.

Tak mau kalah argumen, Anita pun menceritakan apa yang dialaminya saat memutuskan untuk berhenti menjadi PL. Diungkapkannya, bahwa dia mendapat perhatian dari pemerintah serta dukungan dari berbagai pihak. Dia ingin mematahkan anggapan berhenti menjadi PL adalah akhir dari segalanya.

Tapi entah argumen Anita yang belum meyakinkan atau teman-temannya yang kepalang nyaman, semua usaha verbal itu masih gagal. “Padahal saya sudah bilang kalau saya saja yang perantauan dari Cirebon bisa hidup dan malah dapat bantuan. Mereka itu pribumi, jelas punya banyak saudara, ya istilahnya masih ada tempat untuk meminta bantuan. Mungkin mereka belum sadar saja dan masih keukeuh dengan pilihannya menjadi PL,” pungkasnya.

Tak mudah memang untuk keluar dari zona nyaman tetapi untuk suatu perubahan sejatinya memperlukan sebuah pengorbanan. Ada juga sebuah sebuah nasihat yang berkata bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan. (JERMAINE A TIRTADEWA)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir