Air Laut Surut 20 Meter


SERANG
- Siang sampai sore kemarin, air laut di pesisir Karangantu surut sepanjang 20 meter dari bibir pantai. Akibatnya, ikan-ikan menengah dan para pemancing serta warga yang mencari ikan di sekitaran pinggir pantai kecewa karena tidak dapat ikan. Yunus, seorang nelayan di Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengaku belum pernah melihat air surut sejauh itu. Biasanya, jikapun surut, tidak akan mencapai sejauh 20 meter. Dan kondisi seperti itu biasanya tidak akan bertahan lama. Saat sore hari biasanya air laut sudah mulai pasang kembali. "Saya nggak pernah liat sesurut itu," katanya, Senin (3/2).

Yunus mengaku aneh saat kondisi cuaca seperti sekarang sering hujan air laut malah surut. Ia bahkan khawatir bila gejala alam ini merupakan peringatan akan adanya bencana besar, semisal tsunami. Seperti yang ia dengar, tsunami Aceh dulu berawal dari adanya air laut yang surut sampai jauh. "Mudah-mudahan saja bukan," katanya. Dedi Daryanto, warga Lopang Indah, Kecamatan Serang, Kota Serang, mengaku sudah sejak pukul 11.30 berada di dermaga Karangantu untuk memancing ikan. Saat datang, air masih sampai di bibir pantai dan membasahi tanaman bakau. Sekitar pukul 14.00 barulah air sedikit demi sedikit surut sampai sekitar 20 meter. Ia mengaku sudah lama mancing di daerah itu, bahkan sebelum dermaga dibangun. "Saya sudah sekitar 10 tahun mancing di sini. Dari tahun 1990-an mancing tiap malem minggu dan suka nginep," ujar Dedi.

Dedi menyatakan akibat surutnya air laut tersebut ia tidak mendapatkan ikan satu pun. Ia memperkirakan ikan-ikan menengah. Sehingga susah menemukannya. Padahal biasanya ia selalu mendapatkan ikan setiap kali mancing. Namun, ia mengaku tidak takut dengan adanya fenomena surutnya air laut tersebut. "Saya nggak dapet ikan sama sekali hari ini. Aneh," katanya. Komandan Pos TNI Angkatan Laut di Pangkalan TNI Angkatan Laut Banten Nanang Sunaryo yang biasa menjaga pos di dekat pantai menyatakan bahwa air surut sekitar pukul 13.00. Surutnya air ini adalah hal yang wajar dan normal, dan tidak akan menyebabkan tsunami. Kondisi ini biasanya akan bertahan sampai pukul 21.00 dan setelah itu akan pasang kembali. "Kalau surut memang suka sampai jauh. Kalau saat pasang juga suka sampai masuk ke sini (kantor). Nggak mungkin kalau ini tanda tsunami," katanya.

Nanang menyatakan kondisi pasang dan surutnya air laut rutin terjadi setiap bulan. Ketika air laut surut, pertanda cuaca bagus dan ini baik untuk nelayan. Tidak ada ombak dan angin membuat nelayan bisa melaut dan mendapatkan ikan di tengah laut. Kepala Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Serang Tri Cahyo mengatakan bahwa kemarin tidak ada indikasi gempa di wilayah Kasemen atau di Banten secara keseluruhan. Karena itu ia mengimbau agar masyarakat tidak panik dengan dugaan akan adanya tsunami. Sebab, tsunami biasanya didahului dengan gempa berkekuatan 6 skala richter, yang masuk ke dalam golongan gempa dangkal. "Sehari ini kita tidak mendeteksi adanya gempa. Kalau adanya air surut mungkin karena adanya gaya tarik bulan. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir," ujarnya. (tohir)

Beri komentar


Security code
Refresh